Lestarikan Budaya, Hasil Kerja Keras Yang Terbayar

Gerbang lampu hias Kampung Tembaga, Daik Lingga (Doc).
Gerbang lampu hias Kampung Tembaga, Daik Lingga (Doc).

Lingga (marwahkepri.com) – Meski tak semarak tahun lalu, namun perayaan lampu gerbang di malam 27 ramadhan 1438 H di Daik Lingga tetap menampilkan nuansa kesan budaya tersendiri. Tradisi yang sudah dilakukan sejak dahulu secara turun temurun, secara umum oleh masyarakat melayu menjadi kebanggaan yang berarti.

Sejumlah lampu gerbang yang dibuat disejumlah tempat di Daik Lingga, berhasil memikat beribu pasang mata pengunjung yang mondar mandir dengan kendaraan.

Tidak hanya itu, oleh sejumlah penikmat momen ini bahkan dijadikan momen kebanggaan sekedar hanya mengabadikan gambar berlatarkan gerbang bernuansa islami ini.

Meski awal memasuki ramadhan terlihat sepi dari pembangunan gerbang, ternyata sejumlah tempat dengan waktu yang singkat mampu menyelesaikan tepat pada waktu malam yang dikenal dengan malam 7 likur. Semangat pelestarian budaya masyarakat melayu Daik Lingga dan sekitar masih menggema meski tidak ada wacana perlombaan dari dinas Kebudayaan Lingga.

Kesan yang tersimpan sebagai salah satu cara melestarikan budaya, menjadikan momen ini sebagai malam yang dinanti-nanti.

“Kami mulai buat dipertengahan ramadhan, dengan sistem ngebut, kerja keras supaya dapat terkejar malam ini yang malam puncaknya. Alhamdulillah meski tak sesempurna tahun lalu, kami bisa selesai,” ungkap salah satu pemuda Daik Lingga yang aktif dalam kegiatan pelestarian pembangunan gerbang lampu pada malam 7 likur ini, Rabu (21/06).

Tidak hanya gerbang yang sebagian dihiasi dengan lampu neon. Ribuan pelita juga terpasang di tiap sudut jalan sebagai pelengkap, bahkan hingga ke pelosok rumah warga. Setiap warga berpartisipasi dalam menyediakan lampu pelita secara suka rela.

“Sudah tradisi jadi sulit nak ditinggalkan,” lanjut dia.

Beberapa pintu gerbang juga dilengkapi dengan sejumlah makanan khas. Nuansa inilah yang sulit ditinggalkan sebab silaturahmi, saling berbagi yang saling mengikat. Beragam makan dan minuman yang disediakan disajikan secara suka rela oleh warga untuk dinikmati bersama dengan sejumlah pengunjung.

Tak hanya Kota Daik, sejumlah Kampung disekitar juga menyemarakkan malam ini dengan beraneka bentuk gerbang bergaya islami. (mk/arp)