Kopi Balang, Dari Hal Sederhana Menjadi Nilai Ekonomi

Kopi Balang (Doc)
Kopi Balang (Doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Daya Kreativitas, yang kadang setiap orang tidak terpikirkan mampu mendatang nilai tersendiri, misalkan dalam pemanfaatan barang bekas. Segi pemanfaatan ini mampu mendatang nilai ekonomi bahkan menjalin mutualisme antar penjual pembeli dalam meningkatkan suatu bisnis.

Seperti Kopi Balang yang merupakan brand dagang usaha milik Dali, salah satu PNS di lingkup Pemkab Lingga. Bisnis kopi yang dia tekuni sejak enam bulan terakhir sangat familiar di Kota Daik. Bukan hanya soal rasa kopi yang disajikan dengan kenikmatan tempo dulu. Namun usaha ini menampilkan dan menyajikan kopi miliknya dengan cukatan botol bekas yang dimanfaatkan.

Balang merupakan bahasa melayu Daik Lingga tempo dulu yang merujuk pada kata botol. Botol bekas sirup yang semula berserakan tidak terpakai kini menjadi nilai jual. Keberhasilan Dali yang mampu merubah hal yang sederhana menjadi nilai jual mengantarkan merek dagangnya manjadi begitu fenomenal.

“Sekarang orang bisa jualan botol kepada saya. Botol bekas yang dulu tidak digunakan bahkan dibuang, kita bisa gunakan untuk wadah kopi, dengan nama Kopi Balang,” ungkap dia, Senin (13/03).

Dengan basic jiwa enterpreneur, manajemen bisnis sudah dia tekuni sejak kecil. Bisnis Kopi yang saat ini ditekuni mampu meraup omset yang lumayan. Tidak hanya botol yang sederhana, cita rasa kopi dengan konsep racikan tempo dulu yang disajikan mampu dibangkitkan gairah penikmat kopi. Disajikan bersama kue bangkit, salah satu produk khas Lingga yang mulai tenggelam penampilan Kopi Balang semakin menarik perhatian pencinta kopi.

“Sekarang harga kue bangkit dari Rp 6.000 menjadi Rp. 7000 perkempet. Jadi dengan sajian kue khas Lingga ini, kita juga bisa sambil promosi produk yang mulai tenggelam. Bahkan ada yang merasa suka sampai minta disediakan perkampet di warung,” ujar dia.

Mencintai produk daerah, memang jiwa seorang Dali. Usaha kopi yang digarap hingga mencapai penikmat mancanegara, murni disajikan dengan produk daerah. Mulai dari kopi, yang diimpor dari usaha biji kopi rumah tangga di Dabosingkep, Kue Bangkit produk kue khas Lingga dari olahan dasar sagu, sampai pada kerajinan Lekar untuk alas sajian Kopi Balang.

“Saya minta maaf, sebelum Lingga mampu menyediakan air mineral sendiri. Saya tidak menyediakan air mineral dari luar. Jadi ada yang bertanya hal ini,” paparnya.

Untuk itu harapnya, ide yang direalisasikannya ini mampu memotivasi generasi muda dalam berkreativitas ekonomi kreatif. Dengan konsep propesional, kesusksesan melakukan suatu hal akan terwujud.

“Jadi ide ini saya sampaikan intinya hanya ingin memotivasi generasi muda bahwa hal yang sederhana dapat bernilai ekonomi,” harap dia.

Tidak hanya disini, usaha Kopi Balang akan terus dia kembangkan hingga bisa menjadi kekhasan Kabupaten Lingga. “Jadi saya ingin suatu saat nanti Lingga itu bisa dikenal dari Kopi Balang, jadi khas punya Lingga,” tutup dia. (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.