Mc Dermott, Anak Sulung yang Terancam Angkat Koper

 

Fasilitas Pabrikasi Mc Dermott Batam. Sumber: Mc Dermott Office
Fasilitas Pabrikasi Mc Dermott Batam. Sumber: Mc Dermott Office

MARWAHKEPRI.COM, Batam – Indikator ekonomi Batam sejak trimester pertama 2017 menuju ke arah stagflasi. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti menyebut, awal tahun ini, sedikitnya 23 perusahaan tutup dan 500 pekerja dirumahkan. Ibarat wabah endemik, virus ini terus menjalar dan mulai menyentuh perusahaan – perusahaan raksasa.

Tren kelesuan ekonomi itu sudah terlihat sejak dua tahun belakangan. Data dari Disnaker Batam merinci sepanjang tahun 2016 terdapat 67 perusahaan yang tutup, sementara pada 2015 sebanyak 54 perusahaan berhenti beroperasi.

Optimisme akan kembali membaiknya kondisi ekonomi Batam dari berbagai stimulus dan lips service oleh lembaga pemerintahan di Batam kembali pudar ketika perusahaan paling gahar dan paling senior ini disebut – sebut merumahkan ribuan karyawannya. PT Mc Dermott Batam disebut-sebut sudah merumahkan ribuan pekerja. Proses perumahan karyawan itu sudah berlangsung sejak April 2017 lalu. “Saya sudah mendapat konfirmasi dari manajemen Mc Dermott, PHK itu memang terjadi,” kata Rudi kepada Marwahkepri.com, kemarin.

Menurut Rudi, alasan PHK tersebut karena Mc Dermott tengah sepi proyek atau hanya tinggal menyelesaikan beberapa proyek sisa. Kondisi yang sama juga terjadi pada PT Siemens Batam. Mereka sedang melakukan proses pemutusan hubungan kerja akibat tidak ada lagi proyek yang dikerjakan.

Senada dengan itu, Deputi V Badan Pengusahaan (BP) Batam, Gusmardi Bustami mengungkapkan, sepinya order sejumlah perusahaan di Batam disebabkan beberapa faktor. Yang pertama, tingginya harga minyak dunia sebagai pemicu utama perusahaan tidak memiliki order. Harga minyak dunia akhir-akhir ini sudah jatuh hingga ke level US$ 50, yang beberapa tahun sebelumnya sempat menyentuh harga US$ 100.  Kemudian yang kedua, lanjutnya, tingginya biaya logistik di Batam. Ia mengatakan, biaya logistik dari Korea ke Singapura untuk satu kontainer 20 Pit hanya US$ 250. Sementara di Batam US$ 500.

“Dari Korea ke Singapura dan sebaliknya hanya US$ 250, kita US$ 500. Sementara row material dari korea dan Jepang tidak bisa langsung,” kata Gusmardi pada wartawan di gedung Marketing Centre BP Batam usai menerima kunjungan para investor, Jumat (19/5/2017).

Sejumlah kalangan kemudian memprediksi, kedua perusahaan raksasa Mc Dermott dan Siemens ini tidak akan bertahan lama. “Ini tragis, Batam siap-siap jadi kota mati,” sebut Wakil Ketua III DPRD Kota Batam Teuku Hamzah Husein kepada pers di gedung dewan.

Manajemen PT Mc Dermott Batam sendiri menepis perusahaan kontruksi minyak dan gas itu hendak tutup, hanya saja nyaris kehabisan proyek. “Mc Dermott terus berusaha mendapatkan proyek baru dan apabila proyek baru sudah pasti didapat, kami selalu memanggil kembali karyawan kami,” ujar Ray Regan, Director of Batam Fabrication Operation McDermott,  seperti dilansir batamnews.co.id.

Wajar saja kabar yang menyebut Mc Dermott akan angkat koper dari Batam mencengangkan banyak pihak dan menjadi trending topic di sosial media, selain sebagai pusat eksekusi utama untuk Asia Pasifik dan pasar global oil dan gas, Mc Dermott juga merupakan perusahaan multinasional yang pertama di Batam dengan daya tahan yang sudah teruji. “Mc Dermott itu bagian dari sejarah pembangunan Batam. Awal 1970-an sudah ada di Batu Ampar,” kata Terek Adenan, salah seorang pengusaha perminyakan di Batam.

Sejumlah orang lama Batam dari kalangan pebisnis dan tokoh masyarakat di antaranya Nasir Harun, Alfan Suheiri, JJ Zukriansyah dan Saptono Mustaqim pernah menyebut bahwa perusahaan yang awalnya bernama PT Inggram Constraction ini adalah perusahaan pertama yang beroperasi di Batam ketika pulau ini masih menjadi basis logistik Pertamina. Mc Dermott disebut sebagai anak sulung perusahaan – perusahaan lainnya yang berdiri di era industrialisasi Batam. “Iya, dia (Mc Dermott, red) sudah berdiri lebih duluan dari Otorita Batam. Bisa dibilang sebagai anak sulung lah,” sebut Alfan Suheiri.

Sementara itu menurut Nasir Harun, salah satu putera daerah Batam yang berasal dari Belakang Padang ini mengutarakan, Mc Dermott sudah berdiri di Batam hampir setengah abad lalu. “Sudah berkali – kali ada isu mau pindah dan sekarang tutup, rasanya perusahaan ini daya tahannya sudah teruji. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi,” paparnya, yang dihubungi terpisah.

Sementara dari penelusuran literatur disebutkan, pada tahun 1972 PT Inggram Constraction menutup usahanya, kemudian dibeli oleh McDermott Indonesia di Batam dan mulai berjalan tahun 1972. Perusahaan ini merupakan Joint Venture antara Indonesia dan Amerika.

Terkait fenomena tutupnya perusahaan di Batam yang juga mengancam Mc Dermott dan Siemens, Akademisi Batam Ade P Nasution menyebut, kondisi ini sudah tahap lampu merah. “Ini sudah stag namanya. Pemerintah harus cepat karena angka pengangguran naik tajam sementara usia produktif terus melonjak. Ekses sosialnya harus segera diantisipasi,” tuturnya. Dijelaskan Ade, kondisi yang menimpa Mc Dermott, Siemens dan ratusan perusahaan lainnya yang bergantung pada situasi ekonomi regional, seolah saling memperburuk keadaan jika kondisi ekonomi nasional, situasi keamanan dan politik yang sedang tidak stabil tidak pulih dalam waktu dekat. (MNT)

Penulis: Muhammad Natsir Tahar

 

Print Friendly, PDF & Email