Jangan Sampai Jakarta Kembali ke Titik Nol

9fe4c537ae976df197ea11dfbd43e42e8a886816-cd2d9

 

Jakarta (Marwahkepri.com) – Jakarta kota yang berperan sebagai ibu kota negara, pusat ekonomi, dan pemerintahan,  selayaknya menjadi etalase Indonesia. Layaknya kota modern, punya tingkat ketertiban dan kebersihan nomor wahid jika dibandingkan dengan kota lainnya di Indonesia.

Upaya mewujudkan Jakarta bebas dari teror kesemrawutan, kemacetan, banjir, pedagang kaki lima, kriminalitas, dan permukiman kumuh ternyata tidak cukup waktu lima tahun dalam periode kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Meskipun belum tuntas, kerja keras Gubernur Basuki sedikit banyak telah menunjukkan hasil untuk memoles wajah kumuh Ibu Kota. Basuki membuktikan bahwa banjir bukanlah suratan takdir Ibu Kota. Dari sekitar 2.200-an titik banjir, kini hanya tinggal 80-an.

Begitu juga dalam penataan kawasan kumuh, tidak kurang dari 10 kawasan kumuh telah ditata, di antaranya kawasan permukiman Luar Batang, kawasan prostitusi dan hiburan malam Kalijodo, Jakarta Utara, juga kawasan Bidaracina di Jakarta Timur.

Begitu juga dengan pelayanan publik di setiap instansi pemerintah provinsi. Pungli dan berbelitnya birokrasi hampir sulit ditemui warga DKI Jakarta dalam masa kepemimpinan Gubernur Basuki. Disiplin, etos birokrasi, produktivitas, dan kompetensi telah dibangun Basuki.

Tak mengherankan bila survei memperlihatkan tingkat kepuasan warga DKI terhadap Basuki di atas 70%. Namun, spirit itu meluntur pasca-Basuki-Djarot dipastikan tidak akan memimpin Jakarta lima tahun ke depan.

Kesemrawutan kembali menjangkiti kawasan Kalijodo. PKL liar memenuhi ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) atau yang sering disebut ‘Taman Kalijodo’ yang dulunya bersih sehingga berubah menjadi kumuh lagi.

Juga tukang parkir liar merajalela karena adanya jaminan dari preman lama kawasan itu. Aksi ketidakpatuhan warga juga terlihat di kawasan Luar Batang. Bangunan liar yang berdiri di kawasan Pasar Ikan dan lingkungan Kampung Luar Batang kini marak lagi.

Warga kawasan itu berpegang pada janji Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan yang akan membangun kawasan yang ditertibkan untuk normalisasi sungai demi mengurangi banjir di Ibu Kota.

Saat melihat keadaan seperti itu, Basuki tak boleh bertopang dagu. Ia masih gubernur hingga Oktober. Kita mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI yang mengambil langkah pengamanan bersama aparat keamanan untuk merawat ketertiban di Kalijodo dari usikan para preman.

Basuki masih punya tugas menuntaskan yang belum beres, membenahi yang masih kurang. Gubernur baru mesti melanjutkan hal-hal baik yang telah diwujudkan dan dirintis Basuki. Jangan sampai program-program baik terputus ketika pemimpin berganti.

Gubernur baru kelak harus membuat Jakarta lebih baik dan lebih maju. Juga penting bahwa membangun Jakarta merupakan tanggung jawab seluruh warganya. Dibutuhkan kesadaran bagi seluruh warga Jakarta untuk senantiasa taat dan patuh terhadap peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan.

Jakarta ialah ibu kota negara, yang harus bisa menjadi barometer dan teladan bagi kota-kota lainnya di daerah. Sinergi Gubernur Basuki, penerusnya, Anies Naswedan, serta warga sangat dibutuhkan supaya Jakarta tak kembali ke titik nol. (mk/mn/***)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.