Mengganti Jam Ngantor, Di Lingga ASN Wajib Goro Pembersihan Lahan Sawah

 

ASN/PNS Kabupaten Lingga goro pembersihan lahan percetakan sawah, Selasa (18/04). Foto (net/fb)
ASN/PNS Kabupaten Lingga goro pembersihan lahan percetakan sawah, Selasa (18/04). Foto (net/fb/Lzr/BukitLangkap)

Lingga (marwahkepri.com) – Dengan beredarnya surat perintah dari Pemkab Lingga keseluruh SKPD, dalam rangka melakukan gotong royong (goro) serentak oleh ASN/PNS Kabupaten Lingga pada sejumlah titik lahan percetakan sawah, menimbulkan kontra sebagian pihak. Pasalnya, dengan kebijakan Pemkab tersebut, dinilai sudah melenceng dari tugas dan fungsi serta tupoksi ASN yang seharusnya melayani masyarakat dalam urusan pemerintahan dan pembangunan daerah, Rabu (19/04).

Perihal ini tampak berseberang dengan ucapan yang diutarakan Abdul Gani Atan Leman, salah satu anggota DPRD Kabupaten Lingga yang membidangi pembangunan dan pertambangan beberapa waktu lalu. Dia katakan perihal kelanjutan percetakan persawahan masih dalam tahap pembersihan oleh pihak TNI AD dan belum diserahterimakan pada Pemkab Lingga.

Dia jelaskan masalah persawahan ini tetap pada komitmen dan acuan awal program yakni pembersihan lahan percetakan sawah merupakan kerjasama pemerintah daerah khususnya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang membidangi dengan pihak TNI AD. Namun kenyataannya, sejumlah ASN di tiap SKPD ikut terlibat pada tahap pembersihan lahan.

“Sepengetahuan saya masalah percetakan sawah ini masih dalam tahap pembersihan oleh pihak TNI AD belum diserahterimakan ke pemkab. Setelah semua selesai, baru diserahkan ke pemkab yang kemudian baru pemkab menyerahkan ke petani setempat,” kata dia beberapa waktu lalu.

Sementara informasi lapangan, dikerahkan sebanyak 5 orang ASN dari tiap SKPD ke lahan percetakan sawah di dua titik yakni lahan sawah desa Resang Kecamatan Singkep Selatan dan desa Bukit Langkap Kecamatan Lingga Timur dalam melakukan goro guna menggesa percepatan pembersihan lahan yang akan segera ditanami secara massal pada bulan depan.

Lahan yang sudah tercetak dengan bantuan mesin excavator beberapa waktu lalu seluas 45 hektar, sementara pembersih dan penanaman baru dilakukan hanya beberapa hektar saja. Selain itu, dari dua lahan percetakan sawah ini, sekian hektar yang ditanami padi sejak akhir tahun lalu belum memberikan hasil.
“Sepengetahuan kami setiap intansi, mendapat surat pemberitahuan dari pemkab, wajib untuk melakukan goro di lahan percetakan sawah selama dua minggu. Kami imi bawahan hanya ikut jalankan perintah atasan,” ungkap salah satu ASN Kabupaten Lingga yang mendadak berpakaian bebas turun kelahan sawah desa Resang, Kecamatan Singkep Selatan.

Dia yang tidak mau namanya dituliskan untuk kenyamanan jabatan, mengaku diupah sebanyak 50 ribu perhari selama kegiatan goro dilangsungkan. Hal ini dipandang tidak layak mengingat setiap ASN, sudah diposkan anggaran gaji meraka. Sementara masyarakat yang menanti pekerjaan terkesan diabaikan.

“Nama kami jangan di muatkan bang nanti kami dapat sangsi berat pulak dan bisa-bisa kami di pindahkan kepulau,” harap dia.

Menurut dia, mereka (ASN) yang seharusnya berada di kantor pada jam efektif kerja, namun harus turut ke sawah. Terlebih perintah ini tanpa pengecualian atau alasan apapun seperti siswa yang wajib datang dengan menandatangani daftar hadir.

“Kami dengar ada dari Kementerian mau datang, makanya kami diminta bersihkan lahan sawah ini, untuk pembuktian keberhasilan percetakan lahan sawah. Entah itu betul apakah tidak,” ungkap dia dengan raut muka kecewa. (mk/zul)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.