Kondisi Jalan Buruk, Kades Belungkur Berharap Ada Kabijakan Pemda

Muhlizan, Kepala Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Utara. (Dokter)
Muhlizan, Kepala Desa Belungkur, Kecamatan Lingga Utara. (Doc)

Lingga (marwahkepri.com) – Kondisi jalan utama lintas timur pulau Lingga yang mencakup kecamatan Lingga Timur dan sebagian Lingga Utara yang buruk, menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai hingga kini. Terlebih buruknya akses jalan menuju dua desa di Kecamatan Lingga Utara, yakni desa Teluk dan desa Belungkur.

 

Kondisi yang kian parah justru terpelihara sampai sekarang padahal akses tersebut merupakan akses utama penghubung ujung utara pulau Lingga yang punya tampilan panorama alam dan pantai yang menakjubkan. Situasi ini masih harus dirasakan untuk lalu lalang masyarakat di dua desa tersebut bahkan tamu dari luar desa.

 

Kepala Desa Belungkur, Muhlizan kepada media ini menuturkan harapan utama mereka dari pemerintah desa adalah terealisasinya jalan lintas timur hingga sampai ke desa mereka yang berada paling ujung pulau Lingga.

 

“Sebenarnya kita pesimis, dengan kabar yang ada hanya berkisar 2 kilometer saja jalan dari Daik itu yang dibangun. Kalau keadaan seperti itu 5 tahun juga kami kurang yakin sampai disini. Namun sebalik itu kami sangat berharap lah ada kebijakan lain yang dilakukan pemerintah daerah maupun provinsi dalam menjemput anggaran pusat, sebab kami dengar dari anggota dewan provinsi jalan ini merupakan jalan pusat,” papar dia di Kantor Desa Belungkur, Jum’at (07/04).

 

Menurutnya dengan terbangunnya jalan yang bagus sampai ke desa Belungkur justru sangat membantu dalam mengembangkan perekonomian desa. Sampai saat ini dari pengakuannya kendala utama yang dirasakan masyarakat diujung pulau Lingga tersebut, terpusat pada akses jalan.

 

“Itu sangat sedih, kalau musim panas sedaplah mungkin bisa milih jalan dan lobang-lobang yang ada. Cobalah kalau musim hujan, sangat sedih lah tak bisa milih, coba lah orang kabupaten atau provinsi datang pada musim hujan itu pada bulan 11 atau 12, cobalah rasakan sedihnya kami yang paling ujung ini,” lanjutnya.

 

Secara umum diketahui masyarakat desa Belungkur notabennya berprofesi sebagai nelayan. Desa Belungkur juga dikenal sebagai desa penyumbatan hasil laut berupa ikan hingga ke Ibukota Kabupaten. Dengan kondisi jalan buruk tentu berpengaruh pada harga jual ikan. Tidak mustahil setiap pengecer ikan dengan kelontong roda dua akan menjual ikan dengan harga sedikit tinggi akibat ruwetnya kondisi jalan yang berpengaruh pada kerusakan daya tahan kendaraan.

 

“Kalau jalan bagus, tentu suplay ikan akan menjadi lancar, dan harga jual juga tidak terlalu naik. Ini kalau lah musim hujan tak ada pengecer ikan yang bisa datang. Kalaupun datang motornya dah berkumbnag dengan lumpur jalan. Saya saja kalau ada rapat mau tidak mau pergi kalau musim hujan sebab sudah menjadi kewajiban dan tuntutan kerja sebagai pelayan dan pengayom masyarakat,” papar dia.

 

Dengan kondisi jalan yang buruk, salah satu warga dengan niat dan kerja baik membantu menambak lobang jalan dengan bantuan dana dari tiap pengendara yang lewat. (Doc)
Dengan kondisi jalan yang buruk, salah satu warga dengan niat dan kerja baik membantu menambak lobang jalan dengan bantuan dana dari tiap pengendara yang lewat. (Doc)

 

Tidak hanya itu, dengan terealisasinya akses jalan yang memadai dan bagus akan membantu konektivitas yang lancar ke Ibukota. Pengembangan desa Belungkur bisa menjual keindahan alam kepada wisatawan dan menjadikan desa ekowisata dengan pesona pantai dan baharinya yang menawan.

 

“Disini ada pantai dungun, merupakan aset desa yang sudah masuk dipariwisata Lingga. Kalau jalan bagus jumlah kunjungan pantai akan naik. Ini bisa menjadi pemasukan desa dan daerah. Sekarang kalau nak dikelola pun susah. Paling banyak orang berkunjung itu pas hari raya saja. Kemarin itu ramai ketika desa ada kegiatan jalan santai ke pantai itu hampir ribuan orang yang datang,” cetus dia.

 

Selain itu mengenai akses komunikasi yang minim juga menjadi masalah lambannya informasi perkembangan yang didapatkan. Adanya tower mini yang dibangun beberapa tahun lalu berkerja tidak maksimal. Padahal dia akui permasalahan ini kerap diusulkan pada Musrenbang namun belum mendapat tanggapan.

 

“Satu lagi masalah tower, kalau hari panas itu disekitaran tower mini itu saja yang ada sinyal. Kalau hari hujan itu tidak ada sama sekali. Masalah komunikasi ini justru kami sering lelet informasi. Kami harap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah mengenai kekurangan kami yang diujung ini,” terang dia. (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.