Operasi Tangkap Darurat Timbulkan Kekecewaan Sopir Truk

Operasi Tangkap Darurat yang dilakukan pihak Dishub Lingga bersama jajaran Satlantas Polres Lingga di Jl.Pelabuhan Dabo Singkep, Selasa (22/03) lalu.
Operasi Tangkap Darurat yang dilakukan pihak Dishub Lingga bersama jajaran Satlantas Polres Lingga di Jl.Pelabuhan Dabo Singkep, Selasa (22/03) lalu.

Lingga (marwahkepri.com) – Terkait operasi tertib tangkap darurat muatan angkutan lori atau truk yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Lingga beserta tim gabungan Satlantas Polres Lingga meninggalkan keluhan dan kekecewaan dari sejumlah sopir angkutan. Pasalnya mereka (sopir) mengakui hanya mendapat upah minim, sementara dengan adanya aturan ini dinilai menghambat pekerjaan dan pemasukan mereka.

Sebelumnya, pada Selasa (22/03) dijalan pelabuhan Dabo Singkep Kecamatan Singkep, Dishub Lingga bersama Satlantas Polres Lingga melakukan operasi tertib tangkap darurat muatan truk kesejumlah truk muatan yang melintas dengan dasar UU Nomor 19 Tahun 2013.

Dengan diberlakukannya peraturan ini oleh Dishub Lingga sejumlah sopir angkutan truk merasa kecewa. Banyak opini yang muncul, bahkan menurut mereka hal ini akan menimbulkan dampak negatif bagi sopir truk angkutan barang, terkhusus bagi sopir angkut semen yang hanya mendapat upahan Rp 2 ribu saja per sacknya semen.

“Kami kecewa dengan aturan baru yang diberlakukan oleh Dishub Lingga sekarang ini tanpa terlebih dulu mengecek kejadian yang sebenarnya dan mempelajari keadaan yang terjadi di lapangan. Kami ini hanya sopir-sopir upahan aja, bukan pemilik angkutan,” ungkap salah satu Sopir, Ts.

Sementara menganggapi hal tersebut, Kadishub Lingga Yusrizal mengatakan pihaknya melakukan ini hanya menjalankan aturan yang telah ditetapkan dalam UU Nomor 19 Tahun 2013 mengenai ketentuan berat muatan yang harus di ketahui serta dipatuhi setiap sopir angkutan truk.

“Berat beban angkut setiap lori tidak boleh lebih dari 4000 kilogram jika saat di timbang ternyata muatannya melebihi dengan terpaksa harus kami bongkar mengingat akan kapasitas ketahanan badan jalan disini, beda sama Batam tronton pun boleh masuk,” kata Yusrizal, Senin (26/03).

Tidak menampik, dia akui pihaknya juga mendengar sejumlah keluhan atas aturan ini. Namun menurutnya langkah ini merupakan penertiban kepada sopir-sopir yang nakal. Bahkan kata dia, dari segi sisi angkut barang mungkin lebih menguntungkan sebab dengan muatan tidak melebihi kapasitas setiap sopir bisa mendapatkan banyak trip.

“Kita antisipasi. Setalah dilakukan ini banyak yang tidak bisa menunjukkan buku KIRnya. Yang protes itu pihak pengusaha karena jadi lambat kerjanya. Kalau sopir saya rasa bisa untung sebab yang dulu dengan muatan penuh hanya satu trip. Tapi setelah aturan ini dengan kapasitas standar bisa jadi dua atau tiga trip,” ujar dia.

Meski mendapat protes dari sejumlah pengguna lori atau truk, namun pihaknya akan terus menggelar operasi tertib ini. Mengingat Kabupaten Lingga pada tahap pembangunan baik fisik maupun non fisik, salah satunya ketertiban lalu lintas. (mk/zul/arp)