Wakasat Lantas Polresta Barelang, AKP Toni Ridho Nugroho

AKP Toni Ridho Nugroho, Wakasat Lantas Polresta Barelang

Batam (Marwahkepri.com) – AKP Toni Ridho Nugroho lahir dari pasangan Bapak Suhanto dan Ibu Istiyanti di Jakarta pada tanggal 18 Oktober 1977.

Beliau merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Adik pertamanya Koko bekerja di perusahaan Swasta, adik keduanya Didik mengikuti jejak ayah dan abangnya (Toni) sebagai polisi dan sekarang sedang bertugas di Pjr Mabes Polri, sedangkan adik perempuannya Dewi memilih TNI AU.

“Saya sekolah mulai dari SD, SMP, SMA , hingga bekerja pun di negeri juga , makanya jiwa saya merah putih,” ungkapnya.

Dia bersekolah dan besar di Jakarta, setelah lulus SMA dia langsung mendaftarkan diri di kepolisian Caba Polri pada tahun 1996 dan lulus pada tahun 1997. Melihat sosok ayah yang setiap bekerja selalu terlihat rapi menggunakan seragam membuat Toni tertarik untuk mengikuti jejak sang ayah, selain itu dia juga ingin mengabdikan diri pada negara.

Sebagai anak pertama yang diarahkan untuk masuk kepolisian, dia sangat bersemangat dan merasa mendapat dukungan dari orangtuanya, karena pada dasarnya pun dia sangat tertarik dikepolisian.

Kemudian pada tahun 1999 dia kuliah di Fisip Universitas Indonesia Depok Jurusan Kriminologi dan lulus pada tahun 2003. Selama awal karirnya dia bertugas di Brimob Polda Metro di Jakarta selama 5 tahun, kemudian pindah ke densus 88 anti terror selama 6 tahun dan setelah itu dia mengambil sekolah perwira.

Pada penempatan pertama tugas perwiranya tahun 2009, Toni ditempatkan di Polres Lingga Kepulauan Riau sebagai Bantuan Operasional dan bagian Satuan Lalu Lintas hingga tahun 2012. Hijrah dari keramaian hiruk pikuknya Kota Jakarta menuju ke sebuah pulau di Kepulauan Riau terasa sangat berbeda. Namun Toni tetap menikmati penempatannya itu bersama sang Istri Indri Triagustiawati dan ketiga anaknya yaitu Skye, Ashika dan Aushaf.

Sebagai seorang polisi yang penempatan pekerjaannya tidak tetap, tidak ada kendala yang ia rasakan saat bekerja, karena menurutnya selama kita menyukai apa yang kita kerjakan tidak ada kendala yang terjadi.

Namun tidak bisa dipungkirinya bahwa berpisah dengan keluarga merupakan cobaan yang paling berat yang ia rasakan, apalagi pemindahan penempatannya itu dari tanah Jakarta kesebuah pulau.

Karena menurutnya dimana pun ia ditempatkan di Jakata itu masih dalam satu daratan, jauh berbeda dengan sebuah kepulauan.

Karena Toni lahir dari keluarga polisi, pada saat wejangan nikah istrinya sudah dikasih nasehat jika mempunyai suami seorang polisi harus tahan untuk ditinggal dan ditempatkan dimana saja.

Anak-anaknya juga pernah mengeluh, karena setelah pindah dari Jakarta ke Lingga, mereka harus pindah lagi ke Batam dengan suasana yang baru lagi. Namun dia mengatakan pada anak-anaknya bahwa begitulah pekerjaan ayahnya sebagai seorang polisi, semua yang dilakukan bukan hanya untuk negara tetapi juga untuk keluarga dan kebaikan mereka semua sehingga lama – kelamaan anak-anaknya pun mengerti dan paham akan tugas orangtuanya.

Untuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, Toni mengatakan dia hanya bertemu dengan keluarganya pada hari Sabtu dan Minggu, namun mereka menggunakan waktu tersebut sebagai waktu yang berkualitas dengan sebisa mungkin mengurangi penggunaan smartphone, sehingga bisa berkumpul bersama anak–anaknya pada saat makan, bersih – bersih rumah dan juga pada saat waktu luang lainnya.

Menurutnya, pengalaman yang sangat mengesankan selama dia berkarir di kepolisian yaitu pada saat dia masih menjadi anggota Densus 88 dan juga sebagai pengawal Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie.

Sebagai pengawal Presiden Habibie yang mempunyai banyak tamu negara dari Jerman, dia diharuskan untuk menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman walaupun hanya dasar-dasarnya saja. Dia juga pernah belajar Bahasa Arab saat berada di Cipinang.

Toni mempunyai prinsip yang ia pegang dengan teguh yaitu “Disiplin adalah hal yang utama, bekerja sepenuh hati dan berhati – hati”.

Disiplin ini juga diterapkannya dalam keluarganya. Disiplin yang paling di tonjolkannya yaitu disiplin waktu sholat, ibadah, meletakkan pakaian kotor pada tempatnya dan juga membuang sampah pada tempatnya.

Bagaimana pun juga, hal yang paling penting dari semuanya menurutnya adalah selalu bersyukur, beribadah dan melakukan hal yang baik, karena bila yang baik pun yang dikerjakan belum tentu mendapatkan hasil yang baik, apalagi melakukan pekerjaan yang miring – miring, tutupnya. (mk/mun)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.