Kehadiran Pukat Troll Resahkan Nelayan Tradisional Selayar

Ilustrasi Pukat Troll (net)
Ilustrasi Pukat Troll (net)

Lingga (marwahkepri.com) – Sejumlah Nelayan di Kecamatan Selayar, kabupaten Lingga keluhkan tangkapan mereka yang kian menyusut. Pasalnya, dengan adanya nelayan pengguna pukat troll dikawasan perairan tersebut membuat mereka kalah bersaing dengan hasil tangkapan.

Salah satu warga Penuba kecamatan Selayar, Lamidi mengatakan hasil tangkapnya semakin berkurang sebab dirinya dan sejumlah nelayan tradisional lainnya hanya menggunakan alat tangkap tradisional. Dengan adanya aktivitas sejumlah nelayan pukat troll di kawasan tersebut membuat dia dan yang lain malah kalah bersaing.

“Kami tidak bisa apa-apa, kami hanya bisa menangis dalam hati karena kami hanya nelayan kecil,” ujar Lamidi dengan raut muka sedih, Rabu (08/03).

Meski soal rezeki sudah diatur yang maha kuasa, namun menurut Lamidi kehadiran pukat troll ini justru menghambat rezeki nelayan tradisional lainnya. Padahal perihal pukat troll jelas dilarang sebagaimana diatur dalam undang-undang dan peraturan menteri tentang larangan penggunaan pukat troll karena bisa merusak habitat serta ekosistem hayati di sekitar perairan.

“Ya mau gimana lagi pak, kita warga kecil. Hanya mampu melihat dan mengetahui saja. Mereka yang pakai pukat adalah warga di Kecamatan ini juga pak. Mau macam mana lagi,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan Eko, nelayan lainnya. Dia katakan kehadiran nelayan dengan penggunaan pukat troll sangat meresahkan nelayan di kecamatan Selayar, seperti nelayan desa Penuba Timur, desa Penuba, desa Selayar di Tanjung Dua serta nelayan desa Pantai Harapan.

Lanjutnya, akibat aktivitas ilegal fissing tersebut penghasilan nelayan penguna alat tradisional menjadi berkurang. Disamping itu dia tidak menampik, kehadiran kapal-kapal penangkap ikan dengan alat troll itu justru dapat menampung sejumlah pekerja.

“Bagi mereka yang tidak dapat melaut, mereka bekerja pada pukat, karena hasil tangkapnya banyak,” begitu terang Eko.

Sementara, Kepala Desa Pantai Harapan, Zamir saat membenarkan aktivitas pukat troll itu. Dia juga membenarkan adanya pro dan kontra terkait nelayan tradisional dan nelayan pengguna pukat troll.

Perihal ini dia katakan beberapa waktu lalu sejumlah nelayan sudah menyampaikan keluhan kepada anggota DPRD Kabupaten Lingga terkait kehadiran nelayan pengguna pukat troll tersebut.

’”Kita lagi mencari solusi terkait hal ini, anggota DPRD Lingga pun sudah mendapat laporan mudah-mudahan masalah ini cepat selesai,” terang Zamir (mk/arp/red)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.