Desa Diharapkan Mampu Gali Peluang Penghasil PAD

Lingga

Bupati Lingga, Alias Wello Saat sedang menyampaikan Sambutan di gedung Nasional Dabosingkep
Bupati Lingga, Alias Wello Saat sedang menyampaikan Sambutan di gedung Nasional Dabosingkep

(marwahkepri.com) –   Sebagai titik awal, desa diharapkan mampu melihat peluang-peluang yang dapat menghasilkan pundi-pundi keuangan dengan memaksimalkan potensi-potensi yang bisa dikembangkan guna meraih dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal tersebut disampaikan Bupati Lingga, H Alias Wello saat gelar rapat kerja optimalisasi peningkatan PAD Lingga tahun 2017, di gedung Nasional Dabosingkep.

“Untuk mengoptimalisasi PAD dan mencapai target yang telah ditentukan, haruslah di mulai dari desa dan kelurahan maupun kecamatan. Terutama desa haruslah bisa melihat peluang-peluang yang dapat menghasilkan pundi-pundi uang didaerahnya yang masih banyak potensi yang bisa di kembangkan, baik disektor kelautan maupun didarat seperti perkebunan dan lainnya,” kata dia, Selasa (07/03).

Acara yang digelar Dinas pendapatan Daerah Kabupaten Lingga gelar dihadiri lebih kurang 60 peserta meliputi aparatur desa, kelurahan dan kecamatan serta SKPD terkait.

Menurutnya, jika desa sudah mendapat dan menggelikan potensi daerahnya, terlebih menghasilkan PADes dan menunjang masuknya PAD, tiap aparatur desa diharapkan terus melakukan monitoring untuk evaluasinya kembali pertriwulan.

Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Lingga , Abu Hasyim, menyampaikan target PAD Lingga tahun 2017 sebesar 22 miliyar. Target ini justru meningkat dibanding tahun 2016 lalu hanya berkisar 17 miliyar saja.

“artinya Lingga masih kekurangan sebesar 5 miliyar. Dan kekurangan ini harus dicari baik solusi dan pengasilannya,” papar Abu.

Hal ini merupakan tantangan tersendiri tiap desa atau kelurahan guna menutupi kekurangan PAD. Diharapkan tiap desa maupun kelurahan lebih jeli dan sensitif dalam melihat peluang-peluang yang menghasilkan, terlebih memberdayakan diri sehingga peluang tersebut dapat dikelola dengan baik sebagaimana diharapkan.

“Banyak peluang desa yang sebenarnya dapat menghasilkan dana, namun kurangnya kejelian desa sehingga peluang yang ada ini dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingannya sendiri,” tutupnya. (mk/arp/red)

Print Friendly, PDF & Email