Bangunan Sarana Air Minum Desa Tinjul Tahun 2014 Hanya Jadi Monumen

Bangunan Sarana Air Minum Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat
Bangunan Sarana Air Minum Desa Tinjul, Kecamatan Singkep Barat

Lingga (marwahkepri.com) – Bantuan sarana air minum desa Tinjul kecamatan Singkep Barat yang berasal dari anggaran APBN 2014 sebesar Rp 229.748.000 terkesan hanya jadi sebagai pajangan atau monumen saja. Pasalnya proyek sarana air minum yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga sebagai pengguna anggaran dan PT Pasti Makmur Bersama sebagai kontraktor pelaksanan sampai hari ini tidak dapat dimanfaatkan warga setempat hingga menimbulkan kekecewaan sejumlah warga.

Dari pengakuan”Dl” salah satu warga sekaligus tokoh masyarakat desa Tinjul mengatakan proyek tersebut dikerja PT Pasti Makmur Bersama. Namun sejak siap pengerjaan tahun 2014 lalu, sampai hari ini tidak dapat difungsikan warga terlebih mengkonsumsi air tersebut.

Menurutnya hal ini disebabkan setelah selesai pelaksanaan pengerjaan sarana air minum ini tanpa didahulukan uji kelayakannya.

“Langsung di serahterimakan ke desa oleh kontraktor. Sehingga kami menduga bahwasanya pihak kontraktor langsung mengambil sikap melepas tanggung jawab mereka dan menyerahkan penanggung jawab kepada desa,” paparnya saat ditemui, Kamis (02/03).

Anehnya, menurut “DI” sampai hari ini pihak desa sebagai penerima tanggung jawab tersebut, sekaligus bertindak sebagai pengelola kelayakan guna pakai
sarana air minum ini terkesan tidak ambil peduli. Sehingga bantuan yang menelan dana ratusan juta ini dijadikan tugu sebab belum memberikan manfaat sama sekali untuk warga.

“Padahal kami sebagai masyarakat tau di samping menghabiskan anggaran APBN ratusan juta , pihak desa juga menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) dengan alasan penambahan volume pada pemasangan pipa dan batok keran yang sebenarnya tidak menghabiskan sebesar yang dianggarkannya namun semua itu tidak ada perubahan sama sekali yang ada malah sama-sama menghabiskan dana,” ujarnya.

Dengan begini, dia menilai bantuan sarana air minum tersebut hanya menghabiskan uang negara. Terlebih dia menduga salah satu pihak pasti meraup keuntungan dari proyek ini. Namun pada kenyataannya kondisi bangunan yang telah kumuh itu belum dapat memberikan manfaat sebagaimana yang direncanakan.

“Ini bukan benar-benar membangun sarana air minum untuk memenuhi kebutuhan warga masyarakat Tinjul. Tapi kami rasa ada penyelewengan, sementara sarana air minum ini sangat dibutuhkan warga,” pungkasnya.

Ironisnya, sampai hari ini, hal ini tidak ditindaklanjuti apakah cacat hukum atau tidak. Tidak adanya kejelasan itu, “DI” mengatakan seolah-olah penegak hukum membenarkan pekerjaan gagal ini.

“Sehingga dengan tidurnya penegak hukum masyarakat seperti kami inilah yang terus menjadi korban dari setiap oknum yang mencari kekayaan dengan alasan mengatas namakan kepentingan kami masyarakat,” tutupnya.

Sampai berita ini ditulis, pihak desa, kontraktor dan pengguna anggaran belum dapat dikonfirmasi terkait hal ini. (mk/Zul)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.