Dari Hasil Palawija, Riono Mampu Sekolahkan 3 Anaknya

Kebun Riono (39) warga dengan tanaman Palawija
Kebun Riono (39) warga desa Kerandin, Kecamatan Lingga Timur dengan tanaman Palawija

Lingga (marwahkepri.com) – Menekuni profesi sebagai petani bukanlah pekerjaan mudah ditengah sulitnya ekonomi, ditambah kontur alam di daerah Kepulauan tentu sangat berbeda jika dibandingkan lahan didaratan luas terlebih dibawah pegunungan yang hijau. Namun tidak bagi Riono (39), seorang warga desa Kerandin Kecamatan Lingga Timur hanya mampu menekuni profesi sebagai petani demi ekonomi dan kebutuhan keluarga.

Ada yang menarik, meski daerah kepulauan sedikit berbeda dengan kondisi alamiahnya yang kelautan. Bagi Riono itu tidaklah sesulit apa yang dibayangkan. Dengan hasil tani pula, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya dan menopang ekonomi keluarganya walau sesederhana mungkin.

Ketika ditemui, dengan wajah yang terlihat lelah dan legam setelah hampir seharian mengolah dan mengayunkan cangkul ditengah terik matahari dia berkata sudah menekuni profesi ini sejak enam tahun silam.

“Iya Mas. Sudah enam tahun, merantau ke sini. Bercocok tanam di sini,”ujarnya, Senin (27/2) sambil menenggak air putih yang dia bawa dari rumah.

Cahaya semakin terik, ditiap sudut tumbuhan cabai berhamparan. Terlihat anak-anaknya juga turut membantu, membungkuk sambil memotong rumput menggunakan sabit. Begitu juga istrinya yang asik menyemai bibit tanaman cabai yang baru saja diambil dari dalam polibek dibawah pondok mereka ditengah kebun.

Sambil duduk istirahat, dengan keringat yang bercucuran disudut pipi dia katakan bercocok tanam daerah pulau memang sedikit berbeda dengan daerah daratan pegunungan. Terlebih kondisi tanahnya, sebab itu tanaman palawija yang mesti dikembangkan juga harus jeli dalam memilih.

Dengan berpatokan pada pengalaman, ayah empat orang anak ini mengaku palawija sangat cocok pada tanah daerah desa Kerandin maupun desa Bukit Langkap. Adapun jenis-jenis palawijanya seperti jagung, sayur bayam, maupun singkong, serta pisang.

Dari pengakuan juga bekerja sebagai petani di kepulauan ini memang harus tekun dan giat. Apalagi bercocok tanam jenis palawija, harus ekstra menjaga dari gangguan hama demi meraih panen yang memuaskan. Yang sering menjadi kendala adalah hama babi. Kendati demikian, dengan semangat dan dihalangi keahlian yang lain, hal tersebut perlahan diatasi dengan cara memagar hampir seluruh area kebun.

“Cabai baru kali ini di coba. Bibitnya dibibitkan sendiri. Ini sudah berumur 25 hari. Di depan rumah itu juga pernah ditanam. Harganya jualnya cukup lumayan. Namun bibit yang ini harus segera ditanam,” tuturnya dengan nada terpatah-patah.

Diakuainya pula, harga pupuk yang cukup tinggi sebenarnya menjadi pemikiran. Namun menjadi kepala keluarga adalah tanggung jawab dengan kemampuan yang dia punya, dia mengakui hasil tani palawija ini mampu membantu biaya sekolah anak-anaknya. Anak pertamanya saat ini mengemban pendidikan di SMAN 1 Lingga, di Daik Lingga.

“Alhamdulilah, dengan tekun. Hasil tani dapat membantu biaya anak-anak sekolah. Anak saya sekolah tiga orang. Satu sekolah di SMA Daik. Dua irang SMP dan satu lagi usia tiga tahun,” imbuhnya dengan rasa syukur.

Profesi bertani memang butuh kesabaran, meski sudah ditanam seperti tanaman jagung, kata Riono harus menunggu selama lebih kurang 80 hari baru bisa dipetik hasilnya. Sebagai petani juga, Riono mengatakan ia juga memiliki lembu peliharaan. Demi mengurangi beban harga pupuk yang tinggi, adanya kotoran lembu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

“Begitulah setiap hari. Alhamdulilah istri dan anak-anak mau membantu. Saya yakin, selama bertani disini mampu untuk menghidupi keluarga,” paparnya.

Dalam menjual hasil panen, dia mengakui telah beberapa kali gagal sebab tidak tersedianya pasar. Menurutnya pasar lah yang perlu jadi perhatian dari pemerintah. Pernah dia gagal jual hasil panen timun karena tidak adanya pasar. Namun kegigihannya tidak berhenti, akhirnya ia pun mencoba beralih ke petani jagung.

“Kalau hasilnya banyak, kadang memang sulit pasar. Kalau sedikit dicari. Rata-rata dijual sekitar sini saja. Ataupun ke pasar Daik,” tutupnya (mk/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.