Ikan Cupang Mampu Memperbaiki Perekonomian Warga Kediri

2

MARWAHKEPRI.COM, Kediri Ikan cupang atau Betta Splendens kerap dikenal sebagai ikan hias karena memiliki tampilan fisik yang indah.

Sebagai ikan hias, ikan air tawar ini unggul karena keberagaman warnanya, terutama pada bagian sirip dan ekornya. Apalagi saat mengembang, ekor dan sirip itu akan nampak eksotis.

Meskipun penampilannya menarik, ikan ini dikenal mempunyai perangai yang galak. Pejantan akan agresif kepada pejantan lainnya. Karakter ini yang kemudian membuatnya diburu untuk dimanfaatkan sebagai ikan aduan.

Ikan cupang bisa digunakan sebagai senjata biologis, yaitu untuk pembasmi jentik nyamuk. Kemampuannya cukup efektif untuk menanggulangi larva nyamuk yang ada di dalam air.

Beberapa daerah, seperti Kediri, menggunakan ikan jenis ini pada program ikanisasi untuk melawan jentik nyamuk secara alami. Daya tahan tubuhnya yang kuat juga menjadi keunggulan ikan ini.

Ikan cupang dengan segala kelebihannya itu menjadi potensi ekonomi bagi sebagian warga Kediri, Jawa Timur. Ada yang membudidayakannya sebagai sumber penghasilan utama, ada pula yang mengembangkannya sekedar untuk tambahan penghasilan.

Seperti yang dilakukan oleh Heru Sulistyo (46), warga Lingkungan Dander Kelurahan Ketami yang ada di Kecamatan Pesantren. Wilayah itu hampir 70 persen warganya membudidayakan ikan cupang.

Dari membudidayakan ikan ini, Heru mampu meraih omset hingga Rp 15 juta tiap bulannya. Omset itu didapatnya dari 50 petak kolam ukuran 2×5 meter. Masing-masing kolam itu mampu menampung setidaknya 30.000-40.000 benih ikan dengan masa panen 21 hari.

Harga jualnya tergantung jenis, seperti jenis serit perekor seharga Rp 80, plakat Rp 90- Rp 100, serta jenis bulan Rp 100-Rp 125. Harga itu ditingkat petani dan untuk cupang yang masih kategori benih.

“Pasaran jualnya sudah lintas kota,” ujar pria yang sudah menekuni usahanya itu sejak tahun 1990-an itu saat ditemui belum lama ini.

Rakidi (71), warga lainnya, juga merasakan manisnya hasil budidaya ikan cupang. Meski dia hanya memanfaatkannya sebagai usaha sambilan, dia mampu mengumpulkan omset hingga Rp 5 juta tiap bulannya.

Untuk ikan cupang, kakek yang berprofesi sebagai pengelola warung kopi ini fokus pada usaha pembesaran. Dia menjalaninya hanya dengan medium botol bekas air mineral maupun kantong plastik ukuran 1 kilogram.

Pembesaran ikan cupang dilakukan dengan sistem pemisahan tiap ekor. Itu dilakukan untuk menghindari pertarungan antar ikan jantan. Wadah botol bekas maupun plastik itulah yang menjadi medium pembesarannya.

Masa panen untuk pembesaran memakan waktu 1,5 bulan. Untuk usia ini, ikan biasanya sudah mempunyai panjang 5-6 sentimeter. Setiap ikan biasanya dilego dengan harga Rp 2.000-Rp 2.500 per ekor, sedangkan pakan yang digunakan biasanya terdiri dari kutu air maupun cacing. Pola makannya diatur cukup sehari sekali.

“Jadi, enggak begitu repot ngurusnya,” ujar Rakidi.

Para petani ikan itu tergabung dalam beberapa kelompok peternak. Heru dan Rakidi terkumpul dalam kelompok ternak Mina Maju Mandiri. Hasil panenan mereka biasanya dijual hingga ke beberapa kota di sekitar Kediri dan berpusat di Surabaya.

Di kancah internasional, ikan cupang sudah cukup mempunyai nama. Dalam suatu lelang online yang digelar di Thailand tahun 2016 lalu, seekor ikan cupang mampu membukukan harga yang cukup fantastis, yaitu Rp 20 juta.

Harganya mahal karena ikan itu mempunyai warna yang mirip dengan warna bendera negara Thailand