Proyek Air Bersih Tidak Maksimal, LAKI : Kami Minta Segera Diklarifikasi

Nilai Kontrak Pengerjaan Pembangunan Sarana Dan prasarana Papan plang Bersih Pesawat desa Sungai Buluh kecamatan Singkep Barat
Nilai Kontrak Pengerjaan Pembangunan Sarana Dan prasarana Papan plang Bersih Pesawat desa Sungai Buluh kecamatan Singkep Barat

Lingga (marwahkepri.com) – Meski sudah dilakukan perbaikan oleh CV Citra Fajar beberapa waktu lalu, terkait bangunan sarana air bersih yang berada di desa Sungai Buluh,Kecamatan Singkep Barat masih belum memberikan manfaat kepada warga. Hal dilihat sampai hari ini warga belum menikmati masuknya air ke desa terlebih kerumah, meski saluran pipa sudah tersedia disetiap rumah warga, Senin (20/02).

Proyek yang didatalangi dari dana taskin 2015 sebesar Rp. 568.000.000 kini membuah keluhan disejumlah kalangan warga desa Sungai Buluh.

Tinjauan lapangan, warga menduga proyek ini bakal gagal memenuhi permintaan masyarakat. Meski sudah rampung atau tinggal proses serah terima kepihak desa, sejumlah warga mengaku juga akan menolak penyerahan tersebut. Sebelumnya juga pihak desa, melalui Kepala desa juga menyatakan hak yang sama.

“Kita juga tidak akan menerima jika tidak memberikan manfaat. Seharusnya dibangunnya proyek fasilitas air tersebut dapat mengaliri tiap rumah warga,” papar Kades, Agus Setiawan beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal ini, Azrah katua Ormas Laskar Anti Korupsi Indonesia (LAKI) Kabupaten Lingga mengatakan masalah ini untuk dapat ditindak tegas dan di croscek kembali. Meski belum terlihat jelas kejanggalan namun proyek telah memakan waktu lama terbengkalai akibat hutang dari Pemkab Lingga melalui DPU Lingga, akibatnya hingga hari ini masih belum optimal.

“Bak air penuh sampah, daya aliran air tidak begitu kuat hingga kuat dugaan tidak mencukupi dan optimal mengaliri lebih kurang 500 kk rumah warga,” kata dia saat dijumpai seusai tinjauan lokasi, Senin (20/02).

Meski sudah diklaim perbaikan oleh kontraktor, dari keterangan warga menurutnya masih sama saja. Pengerjaan konstruksi dinilai sangat rentan rusak. Spesifikasi dan mutu konstruksi juga diduga syarat Mark up, setahun dibiarkan kondisi bangunan sudah rusak. Apalagi jumlah air yang minim juga memberatkan kondisi bak bisa penuh terlebih saat musim kemarau. Sejumlah meteran dan pipa juga banyak belum terpasang ke rumah warga.

“Warga banyak disibukkah mencari pipa untuk menyambung, kerana pipa yang mereka sediakan tak banyak sampai kerumah. Berharap air bisa mengalir kerumah, namun tidak,” kata dia menyampaikan keluhan warga.

Untuk itu demi kenyamanan masyarakat dan agar proyek pembangunan yang dibangun tersebut dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dia meminta DPU Lingga terkhusus dibidang Cipta Karya agar mempelajari lagi masalah ini.

Tak hanya itu, jika tidak mendapat tanggapan atau tidak sanggup mengusut permasalahan ini maka pihak Ormas LAKI akan terus mendesak dan bergerak ke DPU Lingga.

“Ini bidang Cipta Karya, jika terus dibiarkan berlarut-larut sampai kapan masyarakat bisa merasakan air rumah. Kaulaitas dari banguna itupun kurang menjamin daya tahan. Kami berharap pihak penegak hukum sejumlah pihak yang bertangungjawab terhadap pelaksanaan proyek ini untuk segera dimintai klarifikasi terkait permasalahan ini,” ujarnya.

Sementara, Jang dari pihak Kontraktor mengatakan pihaknya sudah menyelesaikan tugas. Dia menilai semua sudah maksimal. Tinggal pihak PU yang harus melunasi hutang kepada dia selaku kontraktor.

“Kamipun belum terima uang dari PU,” ungkapnya disangkat. (MK/arp)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.