Setahun Memimpin, Awenizar Gelar Apel, Bangun Masjid, Serah DPA dan Asuransi

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Hijrah oleh Bupati Lingga, Alias Wello, Jum'at (17/02) (foto.hms)
Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Hijrah oleh Bupati Lingga, Alias Wello, Jum’at (17/02) (foto.hms)

Lingga (Marwahkepri.com) – Ditandai dengan peletakan batu pertama, Bupati Lingga Alias Wello didampingi Wakil Bupati Lingga M Nizar meresmikan pembangunan Masjid Al-Hijrah. Pembangunan Masjid tersebut, sempena memperingati setahun kepemimpinan pasangan Awenizar di Kabupaten Lingga, Jum’at (17/02).

Sebelum agenda tersebut, paginya jajaran pemerintah Kabupaten Lingga menggelar apel peringatan setahun kerja Bupati dan Wakil Bupati Lingga di lapangan sepakbola Sultan Mahmud Riayat Syah III Daik Lingga dan penyerahan DPA ke OPD Pemkab Lingga. Setelah usai peletakan batu pertama, Alias Wello didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Lingga, Aang Abubakar menyerahkan klaim asuransi nelayan JASINDO kepada ahli waris dari almarhum Udin warga desa Sungai Pinang, Kecamatan Lingga Timur sebesar Rp160 juta.

Pembangunan Masjid dengan luas 20×20 meter di dalam komplek perkantoran sengaja dibangun untuk kebutuhan para PNS dilingkungan Kabupaten Lingga. Rencananya rumah ibadah tersebut didesain dengan arsitektur berciri khas melayu.

“Sebelum puasa mesjid ini sudah bisa kita gunakan. Kita cari tukang terbaik sehingga bangunan masjid yang dibangun nanti betul-betul memuaskan,” ungkap Awe sapaan akrab Bupati Lingga, Jum’at (17/02).

Dengan semangat pembanguan yang luar biasa, Pemkab Lingga berkomitmen pembangunan Masjid Al-Hijrah ini didanai secara swadaya dari awal hingga terwujud sebuah Masjid.

Dihadapan sejumlah PNS yang datang, Alias Wello mengatakan pembangunan dengan swadaya merupakan hal yang tidak mudah terealisasi dengan cepat. Namun kendala yang telah terpikirkan tersebut akan diupayakan, sedikit demi sedikit rezeki secepatnya akan disumbangkan guna percepatan pembangunan.

“Akan kita sumbangkan untuk pembangunan rumah Allah ini. Kita akan bahu-membahu mewujudkan cita-cita dalam waktu singkat. Sebenarnya ini tidak gampang, proyek pembangunan mesjid mengandalkan swadaya itu umumnya berjalan lmbat, model siput. Tapi saya ingin sampaikan komitmen kita bersama, bahwa pembangunan ini akan kita selesaikan dalam tempo 3 sampai 4 bulan kedepan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, harapannya panitia pelaksana juga ikut berkomitmen dalam pembangunan dengan tanggung jawab berat itu. Sebagai tanda awal, dia akan mewakafkan batu bata seluruh bangunan Mesjid Al-Hijrah.

Berdirinya Masjid ini diharapkan juga mampu mengedepankan ibadah sholat tiap pegawai dan honorer. Komitmen tak hanya dalam pembangunan fisik Masjid namun bathiniah dan kesadaran beribadah harus diutamakan. Setelah pembangunan selesai dan sudah bisa digunakan beribadah, kata dia semua aktifitas rapat dan kegiatan perkantoran harus dihentikan ketika masuk waktu sholat.

“Jangan sampai namanya 2020, nanti jamaahnya cuma 20 orang. Makin lama semakin berkurang jamaahnya. Tinggal 1 (satu) Imam dan 1 (satu) makmum,” ujarnya dengan nada bercanda.

Sementara terkait asuransi JASINDO sebagaimana dikatakan Aang Abubakar, sebanyak 2.300 nelayan Kabupaten Lingga terdaftar sebagai peserta asuransi JASINDO. Jumlah ini lebih besar dibandingkan Kabupaten/Kota lain di Kepri dan sudah melebihi dari target yang dibuat. Pencapaian itu tidak terlepas dari usaha dan kerja keras jajaran DKP Lingga dalam mengejar program Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Jumlah tersebut juga berpeluang naik mengingat nelayan Lingga yang terdaftar memiliki kartu nelayan sebanyak 8.000 orang.

” “Alhamdulillah Lingga mendapat lebih besar dari kabupaten/kota lain se Kepulauan Riau. Target awal kami 2.200 peserta, sekarang ini jumlahnya sudah melebihi target 100 peserta. Kalau penambahan kita masih ada peluang. Syarat utamanya itu hanya bagi pemilik kartu nelayan. Lingga ada 8.000 pemilik kartu. Namun kembali lagi, semuanya tergantung KKP,” ujar Aang disela-sela waktu.

Dijelaskan Aang, untuk premi asuransi nelayan JASINDO setiap nelayan dikenakan sebesar Rp175.000 pertahun. Namun pada tahun 2017 telah dimudahkan, angka premi tersebut sudah dibayarkan semuanya oleh pihak KKP.
Begitu juga proses klaim asuransi, hanya kelengakapan berkas peserta. Prosedur pengajuannya, keluarga nelayan peserta asuransi mengajukan kepada pihak desa, kemudian pihak desa beserta ahli waris menyampaikannya ke DKP Lingga. Selanjutnya, pihak DKP akan melanjutkan pengurusan klaim ke perusahaan asuransi JASINDO sampai dengan proses pencairannya. Hanya saja, pintanya setiap nelayan peserta asuransi yang akan mengajukan klaim, dapat mengajukan berkas klaim lebih cepat.

“Tahun ini sudah ditanggung KKP. Ini memicu minat nelayan lain untuk ikut asuransi setelah penyerahan milik Pak Udin kepada ahli waris. Apalagi dapatnya penuh tanpa dipotong biaya apapun,” tutup Aang. (MK/arp/ant)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.