Meski Sudah Perbaikan, Bangunan Air Bersih Desa Sungai Buluh Belum Juga Optimal

Bak penampung telah dipakai pesawat Bersih pesawat dana Taskin Tahun 2015 di desa Sungai Buluh Kecamatan Singkep Barat
Bak penampung telah dipakai pesawat Bersih pesawat dana Taskin Tahun 2015 di desa Sungai Buluh Kecamatan Singkep Barat

Lingga (marwahkepri.com) – Perihal pelaksanaan pekerjaan proyek air bersih desa Sungai Buluh, kecamatan Singkep Barat yang dikerjakan oleh CV. Citra Fajar melalui program dana taskin tahun 2015 sampai saat ini masih belum juga optimal atau tak termanfaatkan. Meski dalih kontraktor sudah dilakukan perbaikan, namun kondisi bangunan masih sama seperti dulu.

Sebelumnya ketika dihubungi via telpon Jang, pemilik CV. Citra Fajar sekaligus kontraktor pelaksana mengatakan telah melakukan perbaikan kerusakan bangunan akibat setahun terbengkalai. Namun kenyataannya dari keterangan masyarakat setempat belum sama sekali terdapat perubahan pada pembangunan fasilitas air bersih tersebut meski dikatakan sudah dilakukan perbaikan.

Begitu juga dari pihak PPTK pelaksana di bidang Cipta Karya di Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPR-PKP) Kabupaten Lingga. Agus Fitrianto sebagai PPTK mengatakan akan segera diperbaiki dan dilakukan serah terima kepada masyarakat desa Sungai Buluh.

Hingga hari inj masyarakat menuntut kejelasan atas proyek tersebut sebab sama sekali belum memberikan manfaat pada warga sebagaimana tujuan awal.

Dikatakan Anuar tokoh masyarakat desa Sungai Buluh, sejak dibangun tahun 2015 lalu sampai hari ini bangunan tersebut tak memberikan manfaat. Sampai saat ini menurutnya proyek air bersih itu belum ada perubahan meski sudah diperbaiki sebagaimana dijawab pihak kontraktor pelaksana.

“Sama sekali dari sebelumnya masih tetap sama dan tidak dapat kami manfaatkan sebagai mana harapan kami selama ini,” kata Anuar lewat telpon genggam, Selasa (14/02).

Tidak dipungkiri dia juga membenarkan dari pihak kontraktor datang melakukan perbaikan sekitar beberapa hari belakangan. Namun dia tidak mengenal sejumlah orang tersebut, dan dia berpikir pekerja itu ada orang-orang dari pihak kontraktor CV Citra Fajar.

Setelah pengerjaan dilakukan lebih kurang satu pekan, hal cukup disayangkan olehnya. Pengerjaan perbaikan tersebut terkesan tidak ada perubahan dari awal, malah bak penampungan air juga keliatan masih bocor.

“Kami tidak kenal siapa pekerjanya, yang jelas pekerjanya kemungkinan orang dari kontraktor. Sekitar satu minggu mereka selesai tapi keadaan masih sama.
Bak masih bocor. Kami sangat berharap semua ini dapat teratasi namun ternyata belum,” paparnya dengan nada kecewa.

Dia katakan jika memang pekerjaan ini dianggap sudah selesai dan akan diserahkan terimakan kepada desa tanpa terlebih dulu diuji kelayakan dan fungsinya, dia sebagai warga justru sangat menolak menerima bangunan tersebut. Dari pandangannya bukan saja masalah tidak memiliki fungsi namun jika diterima desa juga akan rugi.

“Kami sebagai warga desa sungai buluh sangat kecewa kepada Pemkab yang telah mempercayai pekerjaan proyek sarana air bersih desa kami pada CV Citra Fajar dimana menurut penilaian kami CV Citra Fajar sangat tidak bertanggungjawab dengan penyelesaian maksimal, ini kesannya hanya raih untung tanpa memikirkan nasib kami sebagai masyarakat yang membutuhkan sarana air bersih tersebut,” tegasnya lugas.

Selain itu dia berharap perkara ini dapat dituntaskan demi kelancaran manfaatnya kepada warga desa Sungai Buluh. Untuk itu kepada penegak hukum dia mengharapkan dapat menyidik perkara ini.

Beberapa waktu lalu Kepala desa Sungai Buluh, Agus Setiawan juga menyatakan hal sama ketika dihubungi. Menurutnya jika fasiltas air bersih tersebut belum layak memberikan manfaat kepada warganya desapun berat untuk menerima.

“Kita juga tidak akan menerima jika tidak memberikan manfaat. Seharusnya dibangunnya proyek fasilitas air tersebut dapat mengaliri tiap rumah warga,” paparnya beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal tersebut, Jos Cosmos aktivis LSM Peduli menyayangkan penegak hukum yang seolah tutup mata. Menurutnya proyek tersebut bukan lagi diwaktunya, harusnya rampung dibangun dan telah memberikan manfaatnya kepada warga setempat.

“Ini jelas salah karena anggaran tahun 2015 dan bukan anggaran tahun 2017 , tapi aneh menurut saya dan ada apa dengan pihak penegak hukum wilayah kabupaten kita ini,” paparnya, Selasa (14/02).

Dia menambahkan pernyataan yang sama dengan harapan agar dapat segera disidik oleh pihak penegak hukum untuk dapat ditindak lanjuti kebenaran dan kesalahannya.

“Kenapa sampai hari ini tidak ada dilakukan proses hukum terhadap CV Citra Fajar. Sementara kuat dugaan mereka semua tau bahwa ini suatu kesalahan yang sangat merugikan masyarakat. Apa memang ini aparat penegak hukum tidak tahu atau sengaja tidak ambil tahu sampai hari ini aman-aman saja,” pungkasnya. (MK/zul/arp)