Ini 3 Pengusaha Money Changer Yang Terjerat TPPU Narkoba

4

MARWAHKEPRI.COM, Batam – Sidang tiga terdakwa Pengusaha Money Changer dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang diduga hasil dari transaksi narkoba digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (7/2/2016) diruang sidang utama.

ketiga terdakwa tersebut adalah Andias, Ruslan, Tjie alias Edi yang merupakan pengusaha dan karyawan yang bergerak dibidang usaha Money Changger. Penangkapan ke 3 terdakwa tersebut  merupakan hasil pengembangan dari terpidana kasus narkotika oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat yang saat ini berada Rutan Cipinang, Jakarta Pusat.

Dalam persidangan kali ini, para terdakwa dihadirkan untuk mendengarkan kesaksian dari 3 saksi yang dihadirkan JPU yakni saksi Hendarto dari bagian Hukum Bank BCA Pusat, Ema dari Bank BNI Cabang Batam dan Dodi Bank Panin.

Hendarto dalam kesaksiannya mengatakan bahwa ketiga terdakwa benar adalah nasabah di Bank BCA dan memiliki lebih dari satu rekening, dimana terdakwa Ruslan memiliki 9 Rekening dan yang aktif 5, Andias 8 rekening satu rekening sudah ditutup dan Tjie Hok alias Edi 4 rekening.

“Semua rekning tersebut atas nama perorangan yang menggunakan identitas KTP saja dan bekerja sebagai pengusaha money changger dan elektronik dengan pendapatan Rp.25 juta sampai Rp.400 juta pertahun” Kata Saksi menjelaskan dipersidangan

Lanjut Hertanto, atas ketiga nasabah tersebut ada terdapat dana yang dicurigai oleh BNN dan kemudian BNN meminta pihak Bank BCA untuk memberikan data transaksi dari ketiga terdakwa tersebut yang mrngalir dari narapidana di rutan Cipinang.

“Terhadap permintaan BNN dimulai dari pengecekan dan pemblokiran, kami kemudian mrlaporkan ke PPATK, namun pelaporan tersebut bukan terkait perkara para terdakwa ini” Jelasnya

Ia mengatakan dari pengecekan rekening para terdakwa ada terdapat beberapa transaksi yang cukup besar dalam satu hari dan banyak transaksi non tunai antar nasabah bank BCA.

“Pengecakan dimulai dari rekening Ruslan dan ada banyak transaksi non tunai antar nasabah bank BCA dan asal traksaksi tersebut dari 7 orang dalam satu hari yang rata-rata pengiriman mencapai Rp 150 hingga 900 juta dengan total lebih dari Tp 1 miliar” Jelasnya

Masih diungkapkan Hertanto, bahwa terdakwa menerima transferan uang tersebut dari sebagian narapidana kasus natkotika yang saat ini telah berada di rumah tahanan negara.

“Untuk Ruslan sendiri menerima 7 pengiriman uang dalam satu hari dari 7 orang yang beberapa diantaranya merupakan terpidana kasus narkotika dan TPPU” Jelasnya

Selain itu kata dia, Andias dan Tjie Hok juga terdapat transaksi mencurigakan yang dimana kedua terdakwa mendapat transferan non tunai sama besarnya dengan terdakwa Ruslan dan dari beberapa orang yang sama.

“Mereka (para narapidana) adalah nasabah Bank BCA dan pernah mengirim uang kepada para terdakwa ini yang mulia” Tegasnya menjawab pertanyaan hakim

Sementara itu dari kedua saksi Ema dari bni dan Dodi dari panin bank mengungkapkan bahwa tidak ada transaksi mencurigakan direkening para terdakwa, yang dimana menutut saksi bahwa transaksi keluar masuknya uang direkening tersebut wajar.

“Saat membuat rekening mereka memperuntukkannya untuk usaha money change,jadi wajar saja apabila uang keluar masuk” Kata Ema

Menanggapi keterangan para saksi, ketiga terdakwa membeberkannya bahwa ada uang masuk dan keluar dari para pengirim uang yang beberapa diantaranya adalah narapidana kadus narkotika dan TPPU

Sidang kembali ditunda hingga tanggal 22 Febuary 2017 mendatang dengan agenda keterangan saksi masih dari JPU yang akan menghadirkan terpidana yang ada di Rutan Cipinang Jakarta pusat dan Rutan Salemba.