Duh, Peternakan Babi Ilegal di Dam Duriangkang Ternyata Sejak Tahun 2005

3ditpam-bp-batam-hancurkan-pondok-di-dam-tembesi
MARWAHKEPRI.COM, Batam
– Keberadaan peternakan babi di Rindu Malam I dan II, Kecamatan Sei Beduk, Batam, ternyata sudah beroperasi sejak tahun 2005. Peternakan itu kini meresahkan warga Batam, terutama yang menjadi pelanggan perusahaan pengelola air bersih PT Adhya Tirta Batam.

Kepala Seksi Aset dan Bangun Ditpam BP Batam, Muhammad Salim mengatakan, jika Batam ini tidak untuk peternakkan, semua ada dalam Peraturan Daerah Pemerintah Kota Batam.

“Dalam Perda sudah ada dicantumkan, tidak ada peternakan di Batam, apalagi ini di wilayah Dam,” ucap Salim, Kamis (9/2/2017).

Namun demikian, Pihak Ditpam Bp Batam juga telah berupaya agar para peternak babi yang berada di Rindu Malam I dan Rindu Malam II Kecamatan Sei Beduk menutup peternakan ilega itu.

“Namun teguran tersebut tidak direspon oleh peternak, kita sudah upayakan, tapi nampaknya tidak ada hasil,” kata Salim.

Ratusan babi berkeliaran di hutan lindung tersebut. Peternakan itu berada di hutan lindung depan Perumahan Legenda Malaka, atau 100 meter dari Jalan Sudirman dan sekitar 150 meter hingga 200 meter dari Dam Duriangkang.

“Babi-babi itu tidak dikurung. Pagi dikasih makan lalu dilepas. Sorenya babi itu balik ke kandang lagi,” ucap Salim, Rabu (8/2/2017) saat di konfirmasi.

Di akhir tahun 2016, keberadaan peternakan babi sampai ke telinga masyarakat. Masyarakat serta aktivis peduli lingkungan hidup Batam terus mendesak agar pemerintah segera menutup lokasi tersebut.

Sebab, masyarakat khawatir limbah kotoran babi mencemari air di Dam Duriangkang.

Maka, pada 12 Oktober 2016 lalu, tim gabungan menghancurkan lokasi peternakan tersebut. Ribuan babi berhamburan, kandang babi dirobohkan.

“Setelah kandang-kandangnya kita hancurkan, tidak lama setelah itu peternak babi kembali membangun kandang di sana,” kata Salim.

Ditpam sudah mencium keberadaan peternakan tersebut sejak tahun 2005 silam di sekitar, kemudian diambil tindakan, mengumpulkan para peternak dan diminta untuk mengosongkan wilayah sekitar dam.

Bahkan, para peternak diberikan konpensasi, mereka di pindahkan ke Sei Temiang. Namun, beberapa tahun kemudian, satu persatu para peternak kembali menghuni hutan lindung Dam Duriangkan.

“Dulu mereka kita himbau agar segera mengosongkan hutan lindung dan diberi kompensasi. Tapi setelah kompensasi diterima dan dipindahkan, beberapa tahun kemudian mereka balik lagi,” ucap Salim.

Saat ini, Pihak Ditpam BP Batam telah melaporkan hal tersebut ke Polresta Barelang, dan masih tahap pemeriksaan para saksi.(mk/r/batamnew.co.id)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.