Kpd Yth. Sahabat ana Habib Rizieq Shihab

Oleh : Hajarullah Aswad

Kpd Yth. Sahabat ana Habib Rizieq Shihab.

Assalaamu’alaikum.

Teriring do’a, semoga antum selalu dalam hidayah dan keridhoan Allah Swt. ana juga berharap antum tidak jemu dan berkecil hati atas surat terbuka ana ini yang kesekian kalinya. Ana tidak punya maksud lain kecuali dalam rangka wa tawaa shoubil haqqi wa tawaa shoubish shobri (“saling sharing nasehat dalam kebenaran dan kesabaran” QS. Al-Ashr/103: 3).

1. Bib, kita wajib berlaku adil untuk diri sendiri begitupun terhadap kaum kerabat kita. Keadilan adalah karakter utama dari seorang yang taqwa dan akhlakul karimah dari seorang mujahid. Di dalamnya sarat akan hikmah dan pembelajaran, ini juga salah satu warisan yang sangat berharga dari para syuhada sebagai generasi sahabat. Oleh sebab itu, antum memang punya hak untuk melapor seseorang yang diduga sudah melakukan tindak pidana, namun sebaliknya antum pun harus siap bila hal yang sama berlaku pada diri antum. Maka, proses hukum yang antum hadapi sa’at ini adalah konsekwensi dari hakekat keadilan itu. Antum boleh saja menolak serangan balik ini dengan berbagai argumentasi. Atau mungkin juga sebagai ikhtiar perlawanan dari jeratan hukum, antum   menyibukkan diri mencari kasus-kasus lama yang hampir mirip dengan kasus antum namun tidak diproses oleh penegak hukum. Hanya hal ini tidak akan banyak membantu, karena antum tidak memiliki “eska” kerajaan. Keadilan itu  bersifat universal untuk semua orang dan terkadang menyakitkan.  “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS. An-Nahl/16: 90).

2. Bib, sebagai manusia yang mempunyai nafsu, kita mungkin pernah tidak senang kepada seseorang bahkan benci sekalipun. Boleh jadi sikap ini muncul karena kesalah pahaman, perselisihan bisnis, perbedaan keyakinan, persaingan politik atau entrik-entrik kehidupan sosial lainnya. Namun, betapapun bencinya kita kepada seseorang, tidak boleh mendorong kita untuk berlaku tidak adil, termasuk mencari-cari kesalahan.  Berhati-hati lah, semakin kita punya kelebihan (kekuatan) semakin besar pula peluang untuk kita bersikap tidak adil, terutama kepada orang tidak kita senangi.  Lebih baik mengaku kalah dari pada berbuat ketidakadilan. Begitupun, sudah menjadi kecendrungan sifat manusia dalam rivalitas, selalu bersikap negatif kepada saingan dan sekaligus selalu membesar-besarkan keunggulan diri sendiri walaupun minim kelebihan. Inilah perangkap syetan sekaligus  test keimanan dari Allah sebagai media penyempurnaan ketaqwaan  bagi hamba-Nya yang soleh dan yang berjihad fii sabiilillaah.   Hanya orang yang benar-benar ikhlas saja dapat terlepas dari perangkap syetan ini dan dapat sukses melalui ujian Allah.  Menegakkan hukum kepada orang kita cintai dan mengakui kebenaran dari seorang yang dibenci adalah salah satu bagian dari nilai-nilai keadilan yang pasti dan pasti tidak semua orang dapat melakukannya. “Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk bertindak tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah/5: 8).

3. Bib, antum harus mengevaluasi cara antum berbicara apalagi berdakwah, penting dan  sangat darurat. Karena point ini sudah dijadikan titik kelemahan antum oleh mereka-mereka yang berseberangan. Memang kita tidak akan mampu merubah karakter azali sebagai kodrat Tuhan. Seperti halnya Allah menghimpun empat sahabat setia (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) dengan tipe kepribadian yang berbeda untuk mem-back up perjuangan Rasulullah SAW. Hal ini sering ana dengar dalam ceramah-ceramah antum. Hanya, berbicara tegas bukan berarti menghujat, berbicara keras tidak harus kasar, mengkritisi bukan berarti memaki dan waspada bukanlah  buruk sangka apalagi memfitnah. Di dalam kelebihan terdapat kekurangan, di dalam kegeniusan terdapat ketidaktahuan, di dalam keunggulan terdapat kelemahan, di dalam kelemahlembutan seorang wanita terdapat kekuatan dan di dalam keperkasaan seorang pria pasti terdapat kehalusan; cadas memang lebih keras dari air – akan tetapi cukup dengan tetesan cadas dapat dikalahkan. Berorasi, berpidato, berceramah membangkitkan semangat dan menggelorakan jihad antumlah heronya. So, mustahil antum tidak mampu berdakwah dengan lemah lembut, santun dan tenang. Kita bukanlah sebuah balok besi, dari ujung ke ujung dan luar  dalam keras semua.

Bib, apapun alasannya ceramah antum tentang ucapan Selamat Natal tertanggal 25 Desember 2016 tetaplah tidak tepat kalau tidak mau dikatakan salah. Permasalahannya bukan haram tidaknya kita mengucapkan greeting natalan tersebut, ini masail fiqhiyyah tempo doeloe. Namun, ketika antum mempertanyakan “kalau Tuhan dilahirkan, maka bidannya siapa?”, tentu hal ini sudah masuk ke dalam ranah sensitifisme ajaran agama umat lain. Kita tidak punya domain untuk mempertanyakan keyakinan tersebut, apalagi disampaikan dengan nuansa guyonan yang mengundang gelak tawa para jema’ah. Apa bedanya dengan kita memperolok-olok sesembahan umat lain, sangat terlarang dalam Islam. “Dan janganlah kamu memaki (memperolok-olok) sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhanlah mereka kembali, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS. Al-An’am/6: 108).

Bib, selanjutnya kitapun tetap harus sabar ketika aspirasi  dianggap angin lalu, atau gerakan kita direspon dengan kebijakan belah bambu. Perlakuan seperti ini sudah menjadi sunnatullah dari sebuah perjuangan. Oleh sebab itu, kita tetap harus dapat mengontrol diri jangan sampai terjebak  melakukan hal-hal diluar rule of the game,  pada akhirnya berlaku teori senjata makan tuan. Era sekarang adalah zaman dimana orang tidak boleh tersinggung dan kita dilarang khilaf walau tidak sengaja tanpa niat, pasti urusannya akan panjang. Tiada satupun yang tahu, rahasia apa di balik semua ini,  mungkinkah kita harus bermetamorfosis menjadi malaikat agar hidup ini bisa aman??? Wallahu’alam……

Bib, betapapun kecewanya kita tidak perlulah memberikan julukan-julukan  yang buruk  berbau menghina,  termasuk saling olok dan saling mencela. Begitupun, tidak pada tempatnya  kita menggunakan kata-kata yang tidak “pantas” terhadap sejarah lahirnya salah satu simbol negara sekalipun dengan alasan study ilmiah. Kita harus menyadari, bahwa selama ini saling mengolok-olok dan saling mencela adalah sumber dari pertikaian. Kalau mau dirinci, saling olok dan mencela dapat merubah cinta menjadi benci, merubah persatuan menjadi pertentangan, merubah persahabatan menjadi permusuhan, merubah perdamaian menjadi peperangan dan merubah ketentraman menjadi kegaduhan. Apalagi saling olok dan saling mencela terjadi di internal antar saudara seiman, yang masih sama-sam sholat, yang masih sama-sama puasa, yang masih sama-sama pergi ke Mekah, yang masih sama-sama baca Al-Qur’an, betapa ruginya!!! Padahal Allah perintahkan kita untuk saling sayang, saling menasehati, saling bantu, saling memberi, saling melindungi, saling maaf dan saling mendo’akan. Perbedaan di antara kita hanyalah aksesoris keduniaan yang sementara melekat di jasad, tidak lebih dari itu.  “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokan) perempuan lain, (karena) boleh jadi (perempuan yang diperolok-olokan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Hujuroot/49: 11).

4. Bib, hidup di era informatika, digital ataupun dunia maya kita perlu ekstra tabayun. Sa’at ini situasinnya sudah sungsang, dahulu rakyat bosan dengan berita-berita angin surga yang dihembuskan oleh rezim otoriter,  justru sekarang pemerintah yang kelimpungan dengan berita-berita hoax yang dibombardir oleh para pengecut. Berita-berita palsu atau fitnah begitu mudah dan massifnya menyebar dari/ke seluruh dunia. Sebagai orang beriman apalagi ulama jangan sampai kita dijadikan alat atau korban issu-issu dari manusia-manusia yang tidak punya akal budi ini.

Oleh sebab itu, alangkah baiknya sebelum  mengekspos pendapat antum (apa lagi dalam tabligh) tentang adanya indikasi “Logo PKI” di uang baru, terlebih dahulu antum tabayyun ke fihak BI sebagai penanggung jawab, dan hal ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Seandainya informasi ini keliru dan sudah terlanjur menjadi viral ghibah nasional? Apakah kita sanggup bertanggung jawab di hadapan Allah?  Orang bijak berkata, jika kita tidak memiliki ilmu, keahlian dan pengalaman dalam bidang tertentu maka bertanyalah!!! Memang, di satu sisi kita wajib berjihad melawan gerakan dan ajaran komunis, namun di sisi lain kitapun tidak boleh hyper tendensius dengan asal tuduh. Apalagi di zaman sekarang masuknya fahan komunis itu sulit dibendung. Maka tabayun, pengendalian diri dan rasionalitas wajib kita kedepankan. Alangkah sombongnya kalau pemerintah sekarang berani menghidupkan kembali ideologi-ideologi, LSM-LSM, ormas-ormas dan Parpol yang bersinergi dengan aliran komunis, itu bermakna bunuh diri. Padahal kita sudah sama-sama mafhumTap MPRS No. 25 Tahun 1966 dan KUHP pasal 107 Tentang Pelarangan Komunis masih berlaku; TNI bersama seluruh rakyat Indonesia siap tempur,  bahkan dalam berbagai aksi sporadis dari oknum-oknum tertentu yang coba-coba mempublikasikan simbol-simbol komunis kontan mendapat reaksi dari masyarakat, polisi dan tentara. Kemudian di negara-negara asal dan basis seperti Rusia, Tiongkok, Kuba dan negara-negara Eropa Timur  ideologi komunis sudah hampir mati.  Pertanyaannya, apakah mungkin BI dengan sengaja mencetak uang dengan memasukkan  logo komunis?  Yang resikonya tidaklah ringan, bukan saja akan kehilangan pekerjaan tetapi pasti masuk penjara serta dicap sebagai pengkhianat negara. Seumur  hidup akan menanggung malu sampai anak cucu. Ana tidak bermaksud ingin membentur antara pemahaman kita, namun kita perlu evaluasi jangan-jangan issu murahan ini sengaja ditiupkan oleh para pecundang untuk kepentingan politik tertentu. Sebab, bersamaan dengan hal ini tersebar berita di medsos  bahwa uang yang “berlogo komunis” tersebut dicetak oleh perusahaan aseng yang berpusat di Solo, sungguh-sungguh menggelikan. Hanya orang-orang yang minim wawasan, orang-orang yang meninggalkan akal sehat dan orang-orang yang tidak siap kalah saja mau mempercayai issu jahat ini.  Na’uuzubillaahi min zaalik, astaghrfirullaah wa aatuubu ilaik. “Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang fasiq datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali atas perbuatan kamu itu”. (QS. Al-Hujuroot/49: 6).

5. Bib, menurut ana semua problematika hukum yang akan antum hadapi sekarang adalah sebuah  parameter keikhlasan dan kesabaran dalam jihad. Semboyan “Hidup mulia atau mati syahid” perlu bukti dan Allah telah memilih antum sebagai sampelnya, sangat tepat. Di dalamnya terkandung samudra hikmah untuk mengevaluasi dan introspeksi diri. Tersimpan rencana besar Allah untuk kebangkitan dan kejayaan umat Islam, kita tunggu dan kita lihat.  Oleh sebab itu, antum tidak perlu kecewa, putus asa, sedih dan emosi ketika laporan hukum terhadap antum datang bertubi-tubi. Baik berupa kasus-kasus lama maupun kasus-kasus baru yang antumpun tidak tahu sebelumnya. Ketika penegak hukum memanggil antum untuk diperiksa tidak perlu diantar dengan barisan pengikut yang mengular, cukuplah dengan beberapa sahabat setia  dan para penasehat hukum.  Kebesaran jiwa antum yang ikhlas menjadi martir pasti akan membangkitkan gelora jihad umat Islam dari seluruh dunia, tidak terkecuali para kepala negara dan organisasi-organisasi Islam Internasional, sengaja atau  kebetulan antum sudah menjadi maskot dunia Islam. Kedepankan husnuzh zhon bahwa penegak hukum adalah saudara yang pasti akan memberikan pelayanan  prima. ‘Kan sesama muslim kita terbiasa saling menebar salam, berjabat tangan,  menebar senyum, dan saling mendo’akan; subhaanallaah- alangkah indah dan sejuknya!!!

Bib, biasanya kehadiran massa akan dijawab dengan massa tandingan, tantangan akan ditunggu dengan tantangan; ancaman akan dilawan dengan ancaman;  namun kalau kita datang dengan  persahabatan maka akan dibalas dengan persaudaraan bahkan lebih dari itu. “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”(QS. Al-Hujuroot/49: 10). Lagipun, pengikut  yang bejibun tidak ada hubungannya dengan proses verbal yang antum hadapi, tidak memberi pengaruh apa-apa karena semuanya berjalan berdasarkan SOP.  Pengerahan massa hanya membuat suasana tambah panas, tegang dan gampang terprovokasi. Belum lagi para munafiquun yang menyusup dalam barisan, jalan-jalan macet total, aktivitas rutin masyarakat terganggu, energi aparat terkuras dan biaya yang dikeluarkanpun tidak sedikit.  Kemudian  tidak mustahil di dalam hati menimbulkan riak, bangga, sum’ah dan merasa paling hebat, inilah “khutuwaatisy syaithoon” yang menjerumuskan laskar fii sabilillaah, seperti isyarat Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits shoheh. Maka lenyaplah pahala jihad yang selama ini kita tegakkan dengan bercucuran peluh, berurai air mata dan berdarah-darah, na’uuzubillaahi min zaalik.

Bib, antum punya hak dan dilindungi undang-undang untuk melakukan perlawanan. Maka lakukanlah  secara prosedural, konstitusional dan halal secara syari’at. Antum tidak perlu menyebar opini subjektif dengan istilah kriminalisasi ulama untuk memancing sentimen umat yang hanya menambah runyam suasana. Serahkan kepada Allah,    yakinlah Allah tidak akan tinggal diam seandainya kasus hukum ini sengaja direkayasa untuk menjadikan antum sebagai sasaran tembak, pertolongan itu pasti datang. Antum memiliki senjata paling canggih yaitu do’a umat di setiap sujud, di setiap ba’da sholat fardhu, di setiap tahajud, di setiap umroh dan haji, di setiap turunnya hujan, di setiap antara azan dan iqomah dan di setiap bibir-bibir dari para ulama, dari para habaib, dari para ustadz, dari para fakir miskin, anak yatim dan do’a dari para orang tua yang sudah lemah. Insyaa Allah maqbul, Allahumma aamiin.

Terakhir Bib, harus disadari bahwa kasus-kasus hukum yang antum hadapi sekarang ini tidak lepas dari  kekhilafan dan kesalahan antum sebagai manusia, maka ada baiknya  secara  gentlemen dan jujur antum mengakuinya, iringi dengan permohonan maaf baik secara terbuka maupun secara pribadi. Sambunglah silaturrahim kepada siapa-siapa saja yang merasa tersakiti dan dirugikan. Mohon sokongan kepada  fihak-fihak yang layak dan mumpuni (baik secara perorangan maupun  lembaga) yang dapat memfasilitasi ibadah saling memaafkan ini. Memang secara teori proses hukum tidak bisa dihentikan namun secara fakta bukanlah sesuatu yang mustahil.  Jasa antum sebagai aktor utama mengendalikan gerakan berjuta umat 411 dan 212 pasti sangat dihargai dan tidak mungkin dilupakan bangsa ini. Kemudian Bib, antum tidak dapat berharap banyak dari lembaga legeslatif sekalipun memiliki legal standing untuk menampung aspirasi antum. Sebab beberapa kasus membuktikan  setiap issu yang bersentuhan dengan parlemen selalu bertambah gaduh dan kusut. Kebiasaan para anggota dewan yang terhormat itu, hanya bisa menyalahkan lawan atau diam cari selamat kalau terdesak. Maaf beribu maaf, mental seperti ini sulit untuk diandalkan dalam penyelesaian persoalan antum.

Demikianlah surat terbuka ini, mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan. Jangan lupa siapkan “senjata” tawakal antum dengan peluru; sholat berjemaah di masjid, qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, puasa sunnah, memperbanyak istighfar dan sholawat, zikir harian pagi dan petang dan bersedekah, selamat berjihad. Kita tetap bersahabat dan bersaudara dunia wal akherat. Wa tawaa shoubil haqq wa tawaa shoubish shobr. Ya Allah…. kumpulkan kami di surga-Mu bersama Rasulullah Saw. Aamiin……

Wassalam;

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.