Mitos kesehatan seringkali dianggap fakta sehingga mengaburkan informasi kesehatan yang sebenarnya. Berkembangnya teknologi dan informasi justru kemudian dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar alias hoax. Soal mitos dan fakta yang kabur memang sudah ada sejak dulu, bahkan ketika masyarakat Indonesia belum familiar dengan berkirim pesan singkat melalui handhone dan juga internet. Misalnya saja soal ibu menyusui yang dilarang minum es atau mandi terlalu malam karena akan menyebabkan bayinya pilek. Hal ini lantas disampaikan secara turun-temurun sehingga diyakini sebagai fakta yang harus dipercaya. Jika dilogika, rasanya sulit ditarik benang merah antara es yang diminum ibu dengan pilek yang muncul pada bayi. Karena es yang diminum ibu tentu tidak menghasilkan air susu ibu (ASI) yang sedingin es. Lagipula pilek atau selesma atau common cold disebabkan oleh virus. Ada lebih dari 200 virus yang berbeda-beda, utamanya rhinovirus, adenovirus dan coronavirus sebagai penyebab pilek. Virus tersebut menular melalui udara, bukan melalui ASI. Zaman dulu informasi tersebut mungkin sengaja dimunculkan dengan tujuan baik. Misalnya saja karena dulu es batu didapat dari membeli, dan ternyata dibuat dari air mentah yang tercemar kuman, menyebabkan seorang ibu yang meminumnya jadi sakit perut atau diare. Alhasil proses menyusuinya jadi tidak optimal. Namun tidak ada yang memberi penjelasan memadai kepada sekelompok orang yang percaya informasi ‘ibu minum es bisa bikin bayi pilek’ maka mitos itu menjadi langgeng. Bertahun-tahun kemudian ketika ada orang muda yang berusaha menyanggahnya pun tidak bisa diterima dengan baik. Sesuatu yang salah ketika sudah dianggap sebagai kebenaran tidak akan semudah membalik telapak tangan untuk meluruskannya. Beberapa waktu lalu, konsultan nutrisi Jansen Ongko Msc, RD menyebut sudah sangat familiar dengan hoax kesehatan. Empat dekade lalu, katanya, hoax sudah banyak dan disampaikan dari mulut ke mulut. Karena kekurangan sumber untuk mengkroscek kebenarannya, banyak orang kemudian menelannya mentah-mentah sebagai suatu kebenaran. Akibat dari hoax yang diyakini, Jansen bahkan sampai kehilangan sang ayah. Ayahnya yang terkena kencing manis terkena komplikasi ginjal dan akhirnya meninggal. Ya, hoax bisa membahayakan karena sesuatu yang belum dipastikan benar kebenarannya dianggap sebagai suatu kebenaran dan dipraktikkan. Dalam kasus Jansen, ayahnya sempat mengonsumsi berbagai macam makanan yang kata orang bisa mengatasi diabetes, padahal sebenarnya hanya mitos. Itu makanya hoax, termasuk hoax kesehatan, perlu mendapat perhatian serius. Perhatian masyarakat pada hoax yang bisa membahayakan antara lain tercermin dalam Deklarasi Hidup Anti Hoax dan Fitnah yang digelar 29 Januari 2017 lalu di car free day sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Menkominfo Rudiantara sendiri telah bertekad mengajak masyarakat memerangi hoax. Yang perlu dipahami juga, pembuatan dan penyebaran hoax kesehatan belum tentu bertujuan ingin mencelakai orang lain. Bisa jadi ini merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh seseorang, meski belum terbukti secara ilmiah, dan yang bersangkutan ingin membantu ‘menyehatkan’ orang lain. Untuk itu, ketika ada pesan berantai mampir ke aplikasi berkirim pesan ataupun media sosial yang dimiliki, sempatkan waktu sejenak untuk membacanya secara teliti. Sebab ada kecenderungan juga seseorang meneruskan suatu pesan tanpa memahami besar apa isinya lantaran hanya melihat judulnya saja. Setelah membaca dengan teliti, cari tahu keakuratannya, misalnya dengan mengecek di media massa yang valid atau bertanya langsung ke pakarnya. Nah, jika informasi yang didapat itu terbukti hoax, ada baiknya segera mengirimkan informasi yang benar kepada si pengirim. Karena informasi yang salah itu harus dikoreksi, bukan didiamkan sehingga akan terus-menerus dianggap sebagai sesuatu yang benar dan berpotensi mengakibatkan kefatalan.

2
MARWAHKEPRI.COM, Jakarta – Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penodaan Pancasila. FPI pun menyerukan kepada kader dan simpatisan untuk tetap kondusif.

“Kepada seluruh aktivis, simpatisan FPI, dan umat Islam pada umumnya, untuk tetap tenang, tetap kondusif. Tetap menunggu komando dari ulama-ulama kita. Kita imbau untuk segera lakukan konsolidasi tiap daerah semaksimal mungkin,” kata juru bicara FPI Slamet Ma’arif saat dihubungi, Selasa (31/1/2012).

FPI mengatakan kader dan simpatisannya akan terus membela Rizieq dalam kasus tersebut. Mereka pun akan tetap datang jika Habib Rizieq diperiksa sebagai tersangka di Polda Jawa Barat (Jabar).

“Mereka akan tetap membela ulama. Mereka akan membela Habib sampai habis-habisan. Kita akan bela beliau,” ujar Slamet.

Menanggapi imbauan Polda Jabar tentang datang tanpa membawa massa, FPI tidak menjamin akan melakukan hal tersebut. Bagi FPI, kehadirannya bisa meredam kerusuhan yang mungkin akan terjadi.

“Kita harus ada di tengah-tengah mereka. Justru kalau kita melepas mereka, justru bahaya dengan keamanan ini negeri. Jadi (kehadiran kita) membuat kondusif,” ucapnya.

Sebagai langkah hukum, FPI akan mengajukan praperadilan. Pengajuan praperadilan segera diajukan.

“Secepatnya (diajukan), hari ini rapat teknis untuk membahas pengajuan praperadilan. Tapi, kita hampir pastikan parperadilan,” ujar Slamet.

Sebelumnya, Polda Jabar menetapkan Habib Rizieq Syihab menjadi tersangka kasus dugaan penodaan Pancasila. Penetapan Rizieq sebagai tersangka berdasarkan hasil rangkaian gelar perkara tahap penyidikan yang dilakukan tim penyidik Ditreskrimum Polda Jabar.

“Penyidik meningkatkan status Rizieq Syihab dari saksi terlapor menjadi tersangka,” kata Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Senin (30/1).

Gelar perkara ketiga ini berlangsung hari ini selama tujuh jam atau mulai pukul 11.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Sebelumnya, pagi hari tadi, penyidik meminta keterangan tambahan satu saksi ahli. Tercatat, menurut Yusri, sebanyak 18 saksi yang sudah didengar keterangannya oleh penyidik berkaitan kasus tersebut.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.