Indonesia di Puji Norwegia tentang Cara Menghadapi Teroris dan Radikalisme

20170119172506-teroris

 

Polisi terlibat baku tembak dengan pelaku peledakan bom di kawasan Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2016)


MARWAHKEPRI.COM – Norwegia mengapresiasi sikap Indonesia dalam menghadapi terorisme dan radikalisme yang belakangan sedang marak terjadi di dunia. Hal ini terefleksi melalui serangan bom Thamrin tahun lalu, yang mengakibatkan korban tewas dan luka.

“Kami teringat akan aksi terorisme yang terjadi tahun lalu di Jakarta yang menewaskan sejumlah orang. Namun, masyarakat Indonesia menyikapinya dengan tegas dan berani, terbukti melalui pesan di media sosial yang mengusung tagar #KamiTidakTakut,” kata Menteri Muda Urusan Luar Negeri Norwegia, Laila Bokhari, dalam seminar Foreign Policy Community Indonesia di Jakarta, Kamis, 19 Januari 2017.

Bokhari menilai, terorisme banyak terinspirasi dari banyak motivasi berbeda seperti politik, ideologi, dan agama. Aksi teror bahkan pernah terjadi di Norwegia, ketika pada 22 September 2011, terorisme dari kelompok sayap kanan menyerang gedung utama pemerintah di Oslo. Pada hari yang sama, sebuah kamp pemuda di Utoya juga diserang secara brutal.

“Terorisme tidak akan pernah bisa ditoleransi. Terorisme adalah kejahatan. Kejahatan ekstremisme merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyak konflik di dunia. Ini juga yang menimbulkan kendala bagi pembangunan sosial dan ekonomi, juga kemajuan dan pertumbuhan,” Bokhari menegaskan.

Selain itu, meski lebih dari 70 persen serangan teroris terjadi di lima negara seperti Irak, Afghanistan, Nigeria, Pakistan, dan Suriah, situasi ini turut memengaruhi sejumlah besar negara-negara di semua benua.

“Kami sekarang harus mengalihkan perhatian kepada mereka yang kembali dari negara konflik, dan menghentikan mereka melakukan serangan atau radikalisasi lain. Sejumlah besar pejuang teroris yang kembali ke Norwegia pun telah didakwa atas tuduhan terorisme,” katanya.

Bokhari menilai bahwa dari sisi pemerintah, upaya yang lebih keras untuk mendeteksi plot terorisme lebih lanjut harus digalakkan. Salah satunya dengan berbagi informasi lintas batas, dan meningkatkan kerja sama deradikalisasi.

“Kami tidak bisa melakukan ini sendiri. Diperlukan kerja sama dengan akademisi dan masyarakat sipil. Upaya ini juga perlu didasari dengan pemahaman analisis yang luas mengenai terorisme dan akar penyebabnya,” ucapnya.(*)