PLN Terpaksa Impor Listrik dari Malaysia Untuk Terangi 4 Daerah Perbatasan

listrik

Marwahkepri.com – PT PLN (Persero) terpaksa mengimpor listrik dari Malaysia untuk menerangi beberapa daerah di Kalimantan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Sebab, kabupaten-kabupaten di perbatasan itu sulit dijangkau.

“Daerah-daerah ini remote, susah terjangkau. Daerah perbatasan seperti Entikong, Krayan, itu lebih mudah mudah dijangkau dari Malaysia,” kata Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, Djoko Abumanan, kepada detikFinance, Rabu (18/1).

Ada 4 kabupaten di perbatasan yang listriknya impor dari Malaysia, yaitu Sambas, Bengkayang, Entikong, dan Kapuas. Sebanyak 4 kabupaten di perbatasan tersebut sudah tersambung oleh jalan raya dari Malaysia. Total listrik yang diimpor kira-kira 8 MW untuk menerangi 4 kabupaten.

“Ada empat titik masing-masing 2 MW,” tukasnya.

Adanya jalan raya memungkinkan pembangunan jaringan listrik dari Malaysia ke Indonesia. Dari Indonesia sendiri belum ada jalur darat menuju ke sana. Tak hanya listrik saja, kebutuhan-kebutuhan pokok di daerah perbatasan juga dipasok dari Malaysia.

“Krayan, ada jalan dari Indonesia saya tanya? Enggak ada. Entikong kebetulan sudah ada jalan dari Malaysia, listrik ada dari Indonesia dan Malaysia, tapi lebih murah dari Malaysia. Murah dari Malaysia Rp 550/kWh. Yang dari Indonesia pakai diesel (PLTD) Rp 2.000/kWh, sistem kita belum sebagus mereka,” ucapnya.

Kalau dipaksakan tak impor listrik, PLN harus menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) untuk menerangi daerah-daerah itu. Solar untuk PLTD akan sangat mahal karena distribusinya sulit sekali. Toh minyak solar untuk PLTD juga impor.

“Ini lebih murah, daripada beli minyak mahal, kita beli listrik saja. Minyak dari sana, saya pakai dari sana Rp 20 ribu/liter. Minyaknya juga dari sana (Malaysia), mending beli listriknya,” ucap Djoko.

Impor listrik dari Malaysia ini baru bisa disetop jika infrastruktur ke daerah-daerah perbatasan sudah bagus. Jika sudah ada jalan raya, PLN bisa membangun jaringan listrik menuju wilayah-wilayah perbatasan. Dengan begitu, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau pembangkit lain yang energinya murah dari wilayah lain di Kalimantan bisa memasok listrik ke perbatasan.

“Infrasturkturnya dulu, sekarang jalan enggak ada gimana? Saya kemarin ke Krayan saja harus sewa helikopter Rp 800 juta. Kalau di sana ada jalan kami bangun lisitrik,” pungkasnya. (mk/as/d)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.