Trump Samakan Intelijen AS dengan Nazi, Menlu Jerman Bingung

0cf79a3f-bc1e-4195-9b84-60e051463536_169 copy

 

MATAKEPRI.COM – Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier mengaku bingung dengan pernyataan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyamakan tindakan intelijen AS dengan hal yang dilakukan Nazi.

“Jujur, soal pertanyaan Anda tentang penyamaan dengan Nazi Jerman, saya sama bingungnya dengan Anda, saya tidak bisa menafsirkan itu,” ucap Steinmeier dalam konferensi pers, menjawab pertanyaan wartawan soal komentar Trump, seperti dilansir AFP, Jumat (13/1/2017).

Pada Rabu (11/1) waktu setempat lalu, Trump menanggapi bocoran komunitas intelijen AS soal Rusia memiliki rekaman video Trump sedang menonton ‘aksi seks merendahkan’ pekerja seks komersial (PSK) di hotel mewah di Moskow. Bocoran itu juga menyebut Rusia banyak membantu dan mendukung Trump selama 5 tahun terakhir.

Via Twitter dan juga dalam konferensi pers di New York, Trump menyamakan pembocoran intelijen itu seperti aktivitas Nazi di Jerman. “Badan intelijen seharusnya tidak pernah mengizinkan berita palsu seperti ini ‘bocor’ ke publik. Tembakan terakhir untuk saya. Apakah kita hidup di Nazi Jerman?” kicau Trump pada 11 Januari.

Dalam konferensi pers di lobi Trump Tower, Presiden AS ke-45 itu menyebut bocoran intelijen itu sebagai ‘sesuatu yang akan dilakukan dan telah dilakukan Nazi Jerman. Trump sempat menuding ‘badan intelijen AS’ sebagai sosok yang membocorkan informasi intelijen itu.

Bocoran informasi intelijen yang dilaporkan media-media AS serta media internasional lainnya, juga terdiri atas klaim yang belum bisa dipastikan kebenarannya soal tim Trump bersekongkol dengan Rusia untuk memenangkan pilpres AS pada 8 November 2016.

Sementara itu, Steinmeier sendiri dikenal sebagai pejabat Jerman yang paling kerap berkomentar keras soal Trump. Sehari usai Trump menang mengejutkan dalam pilpres AS, Steinmeier menyebut hubungan Jerman dengan AS akan lebih sulit di bawah Trump.

Selama masa kampanye, Steinmeier sempat menyamakan Trump dengan ‘penceramah kebencian’. Menurut Steinmeier saat itu, kepresidenan Trump akan menjadi hal menakutkan bagi dunia. Kali ini, Steinmeier mengkritik kebiasaan Trump untuk membahas isu penting dan kebijakan luar negeri via Twitter.

“Saya tidak bisa membayangkan pesan-pesan Twitter ini akan berlangsung lama, saya tidak dalam posisi merumuskan konsep kebijakan luar negeri dalam 140 karakter,” ucapnya.

(nvc/ita)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.