Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Wiwin

c360_2016-12-15-11-39-38-955
Rekonstruksi : KH menebas leher korban

Natuna (Marwahkepri.com) – Kepolisian resor Natuna menggelar rekonstruksi ulang terhadap kasus pembunuhan Wiwin, di Batu Kapal, Ranai, hari ini Kamis (15/12). Turut hadir Kapolres Natuna AKBP Charles.P.Sinaga, Kasat reskrim AKP M.Komarudin, dan pihak Kejari Natuna. 

Rekonstruksi dimulai sekitar pukul 10.45 WIB, menghadirkan tersangka KH (36) dengan mengenakan penutup kepala (topeng), celana pendek warna kuning dan kaos keabu-abuan. Meski kedua tangannya diborgol, aparat Kepolisian tetap melakukan pengawalan ketat terhadap tersangka.

Wajah KH tampak pucat dan gemetar saat memperagakan adegan pembunuhan, bermula dari percekcokan bersama korban (istrinya) di pondok yang kerap dijadikan sebagai persinggahan dan tempat tidur. Adegan korban dilakoni anggota Polwan Mapolres Natuna.

Awalnya didalam pondok, KH kalap karena mendapat kata-kata kasar dari korban, sehingga ia menarik dan menindih korban, lalu menghujaninya dengan sebilah pisau kecil kearah bagian dada dan wajah. Dalam keadaan terluka, korban sempat berlari keluar, namun berhasil ditangkap tersangka sekitar 15 meter dari pondok.

Sempat lari lagi, dan akhirnya korban tumbang sekitar 70 meter dari lokasi kedua. Mendapati korban masih bernyawa, KH makin kesetanan, dengan menusuk-nusuk korban dibagian dada. Tidak hanya itu KH juga mempraktekkan adegan pemukulan dengan sebuah kayu, serta menebas leher dan menusuk perut korban dengan sebuah parang milik warga, hingga akhirnya tersangka melarikan diri.

Rekonstruksi selesai sekitar pukul 11.45 WIB, kemudian KH digelandang ke Mapolres Natuna.

Kapolres Natuna AKBP Charles.P.Sinaga mengatakan, rekonstruksi dilakukan Polisi untuk membantu Jaksa sebagai penuntut dalam perkara ini. Karena dalam pasal 66 KUHP, jaksa wajib mengumpulkan perbuatannya, barang bukti dan keterangannya.

“Kenapa dilakukan rekonstrusi?, karena di Perkap 14, dalam pemeriksaan itu ada 4 metode, yaitu interogasi, pemeriksaan, konfortasi, dan rekonstruksi. Disinlah sinergisitas kita antara penyidik dengan penuntut, dasarnya di pasal 66 KUHP”.

Charles menuturkan, dalam rekonstruksi tersebut, KH memperagakan 16 adegan, berawal percekcokan sampai dengan eksekusi di TKP terakhir. Adegan itu sudah menggambarkan semua perbuatannya dari penusukan, pemukulan, sampai dengan penggorokan korban.

Tersangka dijerat dengan pasal 338 dan atau pas 340 KUHP. Dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara dan atau hukuman mati.

Setelah berkasnya lengkap, Polisi akan mengirim tahap pertama, Jaksa akan melakukan penilaian terhadap berkas, kalau dinyatakan jaksa lengkap, maka akan dikeluarkan P21.

“Adakah rasa penyesalan, secara umum kita tidak bisa tau apakah orang itu ada penyesalan atau tidak. Tapi kalau kita lihat dari body language dan mimik, ya pasti ada penyesalan”.

Karena ancaman hukuman diatas 5 tahun, dalam pemeriksaan wajib didampingi pengacara. “Itu penyidik yang menyediakan”, ujar Charles.(Nang)

Print Friendly, PDF & Email