21 Perkara Ilegal Fishing Sedang Proses Penuntutan

ilegal-600x360
Ilustrasi – Kapal Illegal Fishing

Natuna (Marwahkepri.com) – Kasi Intelijen Kejari Natuna Hendry Sipayung mengatakan, saat ini 21 perkara kasus illegal fishing tengah dalam proses penuntutat. Seluruhnya merupakan tangkapan tahun 2016 ini, dimana 6 perkara hasil tangkapan TNI AL, sisanya 15 perkara adalah tangkapan PSDKP.

Hendry menuturkan, sejak tahun 2016 perkara illegal fishing yang masuk ke Kejaksaan Negeri Natuna sudah mencapai 60 kasus.Modus penangkapan baik dilakukan jajaran TNI AL maupun PSDKP cukup beragam, Dari masing-masing perkara ada menggunakan jaring pair trawl, jaring gillnet, dan pancing rawai.

Dari sekian jenis alat tangkap tersebut hanya jaring jenis pair trawl yang dilarang.

“Dalam kasus ini, mereka (terdakwa) tidak memiliki izin dari pemerintah republik indonesia. Kemudian mereka ditangkap di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia tepatnya diperairan Natuna,” kata Hendry di kantornya, Selasa (18/10).

Untuk barang bukti kapal ikan asing dari 21 perkara tersebut, seluruhnya sudah ditenggelamkan. Hanya saja kata Hendry, satu kapal lebih dulu tenggelam saat perjalanan menuju pelabuhan. hal itu dibenarkan oleh nahkoda Kapal tersebut.

“Satu kapal tenggelam di lokasi penangkapan, sebab mengalami kebocoran. Dan itu diakui oleh nahkoda kapal,” ungkapnya.

Dari 21 perkara itu tutup Hendry, 6 perkara hasil tangkapan pada bulan Maret 2016 dan 15 perkara tangkapan bulan Juni dan bulan Juli 2016. Kesemua kapal tersebut tidak memiliki izin sama sekali dari pemerintah Indonesia untuk menangkap ikan Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia, di laut Natuna/ ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia).

“Modus mereka dalam menjalankan kegiatan tersebut dengan menggunakan jaring pair Tawl, jaring gillnet, ada juga yg mengunakan pancing Rawai, keseluruhan kapal tersebut tidak memiliki izin dari pemerintah Indonesia. dan sejauh ini masih dalam proses persidangan, kita masih dalam pemeriksaan berkas persidangan, untuk proses penuntutan,”pungkasnya.(Nang/dn)