Pipa Minyak Avtur Bocor, Pimpinan Pertamina Susah Dijumpai

zulkifli-saat-meninjau-lokasi-limbah-avtur-kawasan-batu-kapal-kelurahan-ranai-bersama-rekan-kerjanya
Pejabat BLH sedang melihat lokasi tercemar

Natuna (Marwahkepri.com) – Saluran pipanisasi minyak avtur dari tanker menuju bungker pertamina di Jemengan, Ranai,  mengalami kebocoran. Akibatnya, terjadi pencemaran lingkungan, sehingga nelayan dan warga setempat merasa terganggu.

Kabid Penataan Lingkungan Hidup BLH Kabupaten Natuna Zulfikar mengatakan, pihaknya telah mendapat laporan  secara tertulis dari masyarakat. Sehingga pihkanya pun sudah turun kelapangan sebanyak dua kali untuk mengkroscek kebenaran  informasi tersebut.

“iya memang benar sepertinya ada kebocoran, kita sudah turun ke lapangan untuk melihat langsung seperti apa kondisinya. Kronologisnya kita tidak tahu pasti kapan dan bagaimana bocornya pipa avtur itu”.

Zul mengatakan, pihaknya turun kelapangan untuk mengkroscek, sekaligus untuk mengkonfirmasi kepada pihak pertamina. Namun sayangnya upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil karena pimpinan Pertamina susah dijumpai.

“dengan adanya laporan dari warga, kita turun untuk melihat, sekaligus untuk menjumpai pihak pertamina, namun sampai hari ini kita belum bisa menjumpai pimpinannya, karena menurut mereka pimpinan sedang tidak berada ditempat”.

Diakuinya akibat kebocoran pipa itu menimbulkan dampak di lingkungan warga. Ada laporan masyarakat mual pada hari pertama kejadian dan dampak lain ikan berkurang, pengakuan warga setempat biasanya banyak ikan-ikan main di sekitaran rumah mereka tetapi sejak limbah itu ada ikan hilang.

Atas kejadian ini, Zulfikar berjanji akan melayangkan surat kepada pihak Pertamina.“Akan kita berikan teguran secara tertulis, dampaknya memang tidak terlalu mengkhawatirkan karena avtur tidak mudah berpontensi akan timbulnya api seperti besin, tetapi dengan radius terkontaminasi sekitar 1 KM sepanjang bibir pantai akan berdampak pada lingkungan itu sendiri”.

“Masalah ini juga sudah dilaporkan ketingkat provinsi, mereka (BLH Provinsi) juga minta dikirimkan data, dari pantauan terakhir minyak telah banyak menyatu dengan sampah, harapan kita sampah – sampah itu bisa diangkat dari lokasi”.

Hingga empat hari pasca kejadian pihak pertamina belum dapat dikonfirmasi media. Termasuk BLH Kabupaten Natuna juga belum bisa bertemu pimpinan Pertamina Natuna tersebut.

“Kita baru bisa bertemu wakil pimpinan, sampai hari ini (Selasa, 27/09) pimpinan tidak berada di tempat ” pungkas Zulfikar.(nang/ch)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.