Budayawan Tolak Peleburan Dinas Kebudayaan

LINGGA(MK)- Lembaga Adat Melayu (LAM)  Kabupaten Lingga dukung Dinas Kebudayaan berdiri sendiri. Bukan tidak beralasan, kebudayaan merupakan salah satu aset terbesar di negeri yang berjuluk Bunda Tanah Melayu ini.

Sebagaimana dalam surat edaran pemerintah pusat agar Kebudayaan melebur dalam struktur organisasi tenaga kerja (SOTK) bersama dinas Pendidikan sangat disayangkan. Maka dari itu sejumlah tokoh kebudayaan dan masyarakat dikabupaten Lingga mengharapkan kebudayaan ini berdiri sendiri.

Padahal beberapa waktu lalu, dalam Perda SOTK yang telah disahkan dan diserahkan pemerintah daerah kepada provinsi Kepri untuk dievaluasi, agar Dinas Kebudayaan bisa berdiri sendiri dan terpisah dari Dinas Pariwisata. Kabupaten Lingga yang merupakan sentral Bunda Tanah Melayu, memiliki urusan kebudayaan yang begitu luas. Namun akibat porsi-porsi anggaran yang masih minim sehingga pemerintah daerah dinilai masih minim perhatian terhadap aset kebudayaan yang begitu banyak di Lingga.

Menurut Ketua I LAM Kabupaten Lingga Ishak, bahwa kekacuaan aset kebudayaan di Lingga mulai dari sejarah kesultanan Lingga yang pernah berpusat di Lingga lebih kurang 120 tahun. Kesenian tradisional yang masih dipertahankan pelaku budaya, bahasa, adat istiadat, kerifan lokal. “Kita memandang kebudayaan sebagai urusan wajib. Ini juga sejalan dengan visi misi Bunda Tanah Melayu. Banyak hal yang harus dijaga di Lingga ini,” ujarnya Kamis (8/9).

Dikatakan Ishak, sebelum perda SOTK disahkan wacana dinas Kebudayaan telah dibahas bersama sejumlah tokoh kebudayaan di Lingga. Hal ini diharapkannya terealisasi bersama dukungan pemerintah dan legislatif agar persoalan budaya dapat menjadi prioritas. Dikatakannya, revolusi mental program Pak Presiden, dapat di bangun lewat kebudayaan. Maka porsinya juga akan lebih jelas. Karena terang Ishak,  kebudayaan adalah aset terbesar, bukan hanya Lingga tapi sejarah Kepri yang ada di Lingga. “Kita punya museum, kita punya 106 cagar budaya dan itu semua harus diurusi,” kata Ishak.

Meski ada surat edaran Ishak melihat hal tersebut  hanya bersifat himbauan. Dalam hal ini, daerah harus bisa mempertegas. Ishak berharap hal ini menjadi pemikiran bersama untuk kepentingan budaya Melayu. Namun dalam tekhnisnya, tentu perlu ditempatkan orang-orang berkompeten yang mampu membidangi persoalan kebudayaan di Bunda Tanah Melayu, Lingga.

Sejalan dengan itu juga, Budayawan Melayu Rida K Liamsi, mempertegas jika Kepri akan diuntungkan dengan kebudayaan yang berdiri sendiri. Ia bahkan menilai, jika Kebudayaan melebur bersama dinas Pendidikan merupakan sebuah pelecehan terhadap orang Melayu. “Kepri itu tak akan miskin kalau ngurus kebudayaan. Kebudayaanlah yang akan membesarkan Kepri ini,” imbuhnya. (pk/hk/r)

Print Friendly, PDF & Email

2 thoughts on “Budayawan Tolak Peleburan Dinas Kebudayaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.