6 ABK Pompong Bebas, 2 Juragan Tunggu Tebusan

kapal
Ilustrasi – pemulangan ABK asal Serasan

Natuna (Marwahkepri.com) – 6 dari 8 orang warga Serasan, Natuna, yang ditahan castam Polisi Diraja Malaysia beberapa waktu lalu, kini sudah bebas. Namun 2 orang juragan pompong masih ditahan pihak Malaysia sambil menunggu uang tebusan.

Camat Serasan Timur Khaidir kepada media ini, Minggu (11/9), membenarkan, jika 6 orang ABK pompong sudah bebas dan dipulangkan ke Serasan. Namun 2 orang juragan, beserta dua unit pompong dan barang bawaan masih ditahan pihak Malaysia.

“6 orang ABK sudah dipulangkan, namun dua juragan beserta pompong masih ditahan, di Malaysia mengikuti proses hukum”, terangnya.

Khaidir menjelaskan, jika dua orang warganya itu, harus mengikuti proses pradilan di negeri jiran. Sebab, jika harus membayar tebusan warga tidak mampu, tebusanya sangat mahal mencapai ratusan juta rupiah.

Berdasarkan informasi diterimanya, kemungkinan warganya ini akan dikenakan hukuman satu tahun kurangan di Malaysia. jika tidak bisa membayar uang tebusan kepada pemerintah Malaysia.

Diceritakan Khaidir, insiden penangkapan ini terjadi, karena warganya itu, kedapatan membawa barang yang dilarang oleh pemerintah Malaysia dari Pelabuhan Sematan ke Serasan, Seperti, barang-barang subsidi kebutuhan pokok, beras, gula pasir.

Barang-barang ini, sebenarnya tidak boleh diperjual belikan oleh pemerintah Malaysia, tanpa membayar cukai atau pajak. Jika tertangkap tangan maka akan dihukum.

Sebenarnya, sambung Khaidir barang yang dibawa oleh warganya itu, tidak banyak hanya beberapa karung beras dan beberapa barang kebutuhan pokok lain, tapi karena aturan di Malaysia sangat ketat, jika tertangkap resikonya sangat besar mulai dari uang tebusan hingga hukuman kurungan.

Lanjut, Khaidir sebenarnya pemerintah daerah telah berupaya untuk melegalkan jalur perdagangan lintas batas ini, Namun hal itu belum terwujud sampai saat ini, sehingga banyak warga menjadi korban penangkapan di lintas batas.

Beberapa waktu lalu, kami sudah melakukan pertemuan dengan Sotek Malindo gabungan antara Kalbar dan Serawak Malaysia. Namun, kendalanya Natuna sampai detik ini belum menjadi anggota dari organisasi itu.

Rencananya, tahun 2017 nanti, Natuna akan dimasukan dalam anggota Sotek Malindo. Mudahan-mudahan rencana itu, cepat terwujud agar kerjasama perdangan lintas batas bisa tercapai, terangnya.

Menyikapi persoalan tertangkapnya warga Serasan oleh Polisi Diraja Malaysia, anggota DPRD Natuna Pang Ali merespon dengan cepat.

Dalam akun facebooknya pagi ini, Pang Ali menulis, informasi terakhir yang diterima melalui telpon, sebanyak 8 orang nelayan serasan yang ditahan polici malaysia.

6 orang anak buah kapal (ABK) sudah dapat balik di serasan, namun 2 juragan motor (pompong), masih ditahan sebelum dapat membayar uang jaminan sebesar ,120 ribu ringgit.

Secepatnya, saya akan menyampaikan permasaalan ini ke pimpinan dprd untuk memanggil dinas terkait untuk mencari sulusi menyelesaikan masaalah ini, tulis Pang Ali melalui akun pribadinya.

Sebelumya, kasus tertangkapnya 8 orang warga Serasan oleh castam Polisi Diraja Malaysia, sempat menjadi perdebatan di media sosial.

Meski kasus tertangkapnya, warga Serasan oleh Police Malaysia bukan pertama kali terjadi. Namun, kejadian kali ini cukup mengundang simpati publik.

Sebab kejadian ini, telah ditanggapi oleh Bupati Natuna, Hamid Rizal yang mengatakan, jika melanggar aturan harus tanggung sendiri resikonya, disalah satu media online.

Statmen, bupati Natuna ini sempat menjadi sorotan masyarkat, sebab dinilai tak pantas seorang pemimpin berucap semikian. Seakan, tak mau bola panas terus bergulir, Hamid Rizal pun membantah bahwa yang ditulis salah satu media online itu, tidak benar.(mk/nang)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.