Hasyim Akhiri Hidup Dengan Tali Ayunan

IMG_20160807_102126
Jasad korban setelah diturunkan

Natuna (Marwahkepri.com) – Seorang pelajar kelas II SMA favorit di Ranai, ditemukan tewas dirumah kontrakannya di Air Lipau, RT 02 RW 01, Kelurahan Ranai Darat, minggu (7/8) sekitar pukul 09.00 wib. Pria bernama lengkap Hasyim Rudianto (17) itu, ditemukan abang dan kakak iparnya di ruang tamu, dalam posisi tergantung dengan tali ayunan menjerat lehernya.

Kakak ipar korban, Fitria, kepada media ini menceritakan, pagi itu ia bersama suaminya Solimin datang kesana untuk mengunjungi adik iparnya. Setibanya disana pintu rumah dalam keadaan tertutup, lantas mereka langsung mengetuk pintu seraya memanggil nama korban, namun tidak ada jawaban.

Karena itu suaminya mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, begitu masuk kedalam rumah, keduanya kaget bukan kepalang melihat Hasyim dalam keadaan tergantung di ruang tamu, dengan tali bekas ayunan anak dari kedua pasutri ini.

“tadi pagi kami datang ke rumah ini, karena pintu masih ditutup kami gedor dan panggil-panggil tidak ada suara, makanya kami buka pintu ternyata tidak dikunci, begitu masuk kami melihat dia tergantung pakai bekas tali ayunan anak saya”.

Mendapati Hasyim tengah tergantung, keduanya histeris minta bantuan kepada tetangga sebelah rumah dan Satpol PP yang dinas di kediaman rumah Bupati. Kemudian jasad korban diturunkan dengan memotong tali ayunan.

Kata Fitria, sebelumnya mereka tinggal bersama di rumah kontrakan tersebut, namun karena ia dan suaminya pindah rumah, akhirnya korban tinggal sendiri, sudah sekitar satu bulan lamanya. karena masih sekolah, semua kebutuhannya ditanggung mereka.

“sebenarnya kan dia tinggal di ceruk, karena kasihan bolak-balik ke ranai jauh, makanya tinggal sama kami, tapi karena kami pindah rumah, ia tinggal sendiri di rumah ini, kalau tidak salah sudah sekitar sebulan”.

Dikatakannya, terakhir kali bertemu dengan korban pada minggu lalu, kepadanya Hasyim tidak pernah bercerita apapun terkait permasalahannya, karena ia merupakan sosok pendiam dan agak tertutup. Hasyim gantung diri masih menggunakan pakaian seragam olah raga, orangtua anak ketiga dari lima bersaudara ini tiba dilokasi sekitar 50 menit kemudian.

Anggota Satpol PP yang turut membantu, Hardiman, mengatakan, bersama dua orang rekannya pagi itu sedang tugas jaga di rumah kediaman Bupati. Ia mengetahui kejadian ini karena kakak ipar korban datang ke pos jaga meminta bantuan.

Setibanya disana, bersama abang dan kakak ipar korban, Hardiman menurunkan jasad korban dengan memotong tali ayunan menggunakan sebuah pisau tak bergagang. Hasyim ditemukannya dalam keadaan sudah tidak bernyawa, kondisi fisik korban agak kebiru-biruan dan sedikit berbau.

“kami tau ada kejadian ini karena kakaknya datang kesini minta tolong bang, saya datang kesana duluan dan kawan yang dua lagi nyusul, karena melihat masih tergantung saya naik meja, dan potong tali ayunan itu pakai pisau”.

Melihat kejadian ini, akhirnya salah seorang warga, Gafar, menghubungi anggota Polsek Bunguran Timur sekitar pukul 09.20 wib. Tidak lama kemudian pihak kepolisian datang ke TKP untuk melakukan identifikasi.

Sementara itu, Ketua RT 02 RW 01 Jamilus mengatakan, informasi bunuh diri ini diketahui lewat seorang warganya bernama Amir. Ketika sampai dilokasi, jasadnya sudah diturunkan, akan tetapi tali ayunan masih ada dileher korban, gambaran umum fisiknya biasa saja, namun agak berbau.

“sekitar jam 9 nang, saya dikasih tau Amir, warga disni. saya langsung kesana melihat kondisinya, posisinya sudah diturunkan, tetapi talinya belum dibuka dari leher, diturunkan satpol PP yang jaga di rumah bupati”.

Teman satu sekolah korban yakni Alfiansyah mengatakan, sebelumnya hari Sabtu (6/8) korban masih terlihat di sekolah. Tetapi kondisinya terlihat seperti orang sakit, dan tidak mengikuti kegiatan olah raga.

“kesehariannya dia agak pendiam pak, kalau ada kegiatan agama dia rajin ikut, kemudian sholatnya 5 waktu tetap dijalankan, terakhir kami ketemu kemarin hari Sabtu di sekolah, tetapi mukanya agak pucat”.

Sejauh ini tidak banyak informasi diperoleh dari pihak kepolisian, Kapolsek Bunguran Timur Sibarani, yang turut ke TKP juga tidak berkomentar banyak, menurutnya karena Kasat Reskrim sudah turun ke lepangan lebih baik pihak mereka yang memberikan informasi, agar tidak terjadi kesimpangsiuran.

“Kasat Reskrim kan ada turun ke lapangan, ini merupakan kewenangan beliau, jangan sampai nantinya informasi ini menjadi simpang siur”.(mk/nang)