Ini Dia, Wanita Indonesia Tak Lulus SMA Jadi Penasihat Presiden Obama

imamatul-maisaroh_20160726_100923
Imamatul Maisaroh (kanan) dipeluk Presiden AS Barack Obama dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu.

MARWAH KEPRI (MK) – Perempuan asal Malang Jawa Timur, Imamatul Maisaroh (34), menjadi kepercayaan Gedung Putih Amerika Serikat (AS) sejak 2015.

Ima yang bekas pembantu rumah tangga (PRT) ini jadi anggota Dewan Penasehat tentang Perbudakan Manusia untuk Presiden Barack Obama.

Pada Selasa (26/7/2016) hari ini, Ima dijadwalkan bakal tampil di Konvensi Nasional Partai Demokrat AS yang akan digelar di Philadelphia.

Ibu dari tiga anak tersebut diminta menyampaikan pengalamannya sebagai korban perbudakan dan perdagangan manusia di Amerika di depan puluhan ribu delegasi Partai Demokrat –partai yang mengusung Obama sebagai Presiden AS.

Dalam kesempatan tersebut, Ima yang lahir di Desa Kanigoro, Dusun Krajan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang ini juga akan menyampaikan program penanggulangan perbudakan dan perdagangan manusia.

Dengan posisinya itu, Ima memberi saran dan masukan kepada Presiden Obama untuk memberantas perdagangan manusia.

Tercatat 40 ribu sampai 45 ribu orang menjadi korban perdagangan manusia di AS.

Bersama tiga anggota lainnya, Ima dipercaya menangani dua dari lima masalah utama.

‘’Yakni, soal pendanaan dan sosialisasi para korban perdagangan manusia,’’ tutur Ima seperti dikutip dariwww.indonesianlantern.com, sebuah situs komunitas warga Indonesia di Amerika, Senin (25/7/2016).

Kepercayaan itu diberikan ke pundak Ima, yang sejak tahun 2012 menjadi staf CAST (Coalition to Abolish Slavery & Trafficking), sebuah LSM anti perdagangan manusia.

Di CAST, Ima menjabat sebagai organisator atau koordinator para korban Perbudakan dan Perdagangan Manusia.

Siapakah Ima, dan mengapa dia sampai menjadi penasihat Gedung Putih (sebutan untuk gedung pusat pemerintahan AS) ?

Ima teryata memiliki kisah masa lalu yang kelam.

Namun, justru kisah kelamnya itu yang mengantarkan Ima pada posisi saat ini.

Kepergiannya ke AS diawali saat ia lari dari rumah orangtuanya.

Pada 1997 itu, dalam usia 16 tahun saat masih duduk di kelas 1 SMA Khairuddin, Pagelaran, Ima hendak dinikahkan dengan pria yang jauh lebih tua.

“Dulu saya berhenti sekolah karena mau dikawinkan dengan orang yang gak saya kenal, dan umurnya 12 tahun lebih tua,” kata Ima.

Namun penolakan Ima gagal. Sempat kabur, tetapi orangtua akhirnya menemukan dan tetap menikahkannya, walaupun kemudian perkawinannya tak berlangsung lama.

“Rumah tangga gak bahagia karena gak cinta. Saya kabur dari rumah tapi orangtua temukan saya. Tapi, akhirnya saya pisah dengan suami. Habis itu, saya merasa malu sehingga pingin pergi jauh dari kampung,” kisahnya.

Menurut Turiyo (54), ayahanda Ima, ia dan istrinya Alima (50) sempat tak tahu bahwa Ima telah kabur dari rumah.

“Kami tidak tahu. Tapi kemudian ada yang bilang, dia ikut juragan yang juga tetangga kami untuk dikirim jadi pekerja di Hongkong,” tutur Turiyo ketika ditemuiTribun Network kemarin di rumahnya di Desa Kanigoro, Dusun Krajan, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Ternyata Ima lebih tertarik untuk bekerja di Amerika.

Menurut Turiyo, dirinya sempat diminta untuk membayar ganti rugi Rp 600 ribu kepada juragan itu, karena Ima tidak jadi bekerja ke Hongkong.

“Saya ikut latihan kerja di Malang, dan majikan pemilik pelatihan itu punya saudara sepupu di AS. Saudaranya ini perlu pembantu, saya ditawari. Saya senang sekali. Gajinya kala itu 150 dolar AS (sekitar Rp 2,1 juta),” tutur Ima saat berbincang dengan Tribun Network melalui messengerkemarin.

Singkat cerita, pada tahun 1997 Ima akhirnya sampai di Bandara LAX Los Angeles, AS.

Selama ikut majikannya, paspor Ima ditahan oleh si majikan.

Tapi, Ima enggan menyebut nama bekas majikannya itu.

Selama tiga tahun, Ima harus bekerja lebih dari 12 jam dalam sehari.

Hampir setiap hari, Ima menjalani siksaan dan pukulan dari majikannya, seorang warga keturunan yang menjadi interior designer di Amerika.

Untuk kesalahan kecil yang dibuatnya, Ima harus menerima pukulan dan tamparan berkali-kali.

‘’Sampai sekarang, bekas luka di kepala masih bisa dilihat,’’ ujar Ima seraya menekankan, waktu itu ia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali.

Akhirnya Ima tidak tahan lagi. Pada tahun 2000, Ima menyisipkan sebuah notes kecil berisi ‘Permintaan Tolong’ kepada seorang penjaga bayi (nanny) tetangga rumah juragannya.

Tetangga inilah yang menolong Ima melarikan diri dari rumah majikannya dan mengantarkannya ke kantor CAST.

‘’Waktu itu saya tidak bawa paspor,’’ kata Ima.

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah penampungan kaum gelandangan, Ima pun akhirnya bisa tinggal di rumah layak dan bekerja di CAST.

Agar paspornya dikembalikan, Ima berpura-pura pulang ke Indonesia.

Ditemani seorang agen FBI (Biro Penyelidikan Federal AS), Ima bertemu dengan majikannya di Bandara LAX

‘’Saya juga dipasangi alat penyadap untuk merekam seluruh pembicaraan,’’ tutur Ima yang kini mampu berbahasa Inggris dengan rapi.

Singkat cerita, majikannya memberinya tiket pesawat sekali jalan ke Indonesia dan berjanji hendak mengirim uang gajinya, setelah Ima tiba di Malang.

Gaji itu tidak dibayarkan majikannya, karena Ima tidak pulang ke Malang.

‘’Saya hanya masuk ke ruang dalam bandara dan keluar lagi,’’ kata Ima yang akhirnya tidak mau menuntut majikannya yang berlaku kasar itu.

‘’Prosesnya cukup berbelit dan membutuhkan saksi mata yang jelas. Dan aksi kekerasan itu terjadi di dalam rumah tanpa diketahui banyak orang,’’ tutur Ima.

Meski begitu, Ima tetap tegar

Malah sebaliknya, karirnya sebagai aktivis makin menanjak dan berhasil diundang ke berbagai pertemuan tingkat tinggi di Washington DC.

Dan sejak Desember 2015 dia diangkat menjadi anggota Dewan Penasehat Gedung Putih bersama 10 anggota lainnya.

Bagi Ima, bertemu dengan para pejabat tinggi AS seperti Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bahkan dengan Presiden Barrack Obama, sudah pernah dilakukannya.(mk/surya)

editor: irpan

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.