Produksi Gas Natuna Mengalir ke Singapura-Malaysia

 

HL....Blok Gas Natuna.
Blok Gas Natuna.

JAKARTA (MK)- Pemerintah harus lincah melakukan percepatan pembangunan di Natuna. Kawasan ini memiliki potensi yang cukup besar. Ini yang membuat China ingin merebut kepulauan natuna.

Menurut Tenaga Ahli Bidang Migas Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Haposan Napitupulu, mengatakan Natuna adalah wilayah yang sangat penting bagi Indonesia.

“Itulah sebabnya China mengincar wilayah ini,” ungkap Haposan, di Kantor Kemenko Maritim, kepada wartawan.

Berikut adalah kekayaan di Natuna. Disebutkannya, kekayaan Natuna bukan hanya ikan. Didalam petanya, ada kekayaan migas, potensi pariwisata, dan juga untuk pertahanan. Jadi ada 4 yang diincar. Kalau kita lihat peta wilayah yang diklaim China, ini Natuna D-Alpha ikut. Natuna D-Alpha itu punya cadangan gas yang bisa diambil 46 TCF (triliun kaki kubik), terbesar yang ditemukan selama 130 tahun kegiatan migas Indonesia.

Selama ini, Indonesia belum pernah menemukan yang sebesar itu. Ini ditemukan tahun 1973, hampir setengah abad kita tidak pernah menemukan yang lebih besar lagi. Masela yang diribut-ributkan kemarin itu hanya seperempatnya. Sedangkan tangguh, Duri, lebih kecil lagi.

“Sayangnya kandungan gasnya tinggi sampai 72%. Kita sudah melakukan kegiatan eksplorasi di sana sejak tahun 1960-an, waktu itu oleh AGIP yang sekarang bernama ENI. Tahun 1980-an dilanjutkan oleh Exxon, baru kajian-kajian saja,” ujarnya.

Ada lagi yang di incar China, selain Blok East Natuna juga Lapangan Dara, salah satu lapangan di Blok Sokang. Cadangan gasnya sekitar 6 TCF, kira-kira separuhnya dari blok Tangguh. Ini ditemukan tahun 2000. KKKS-nya Black Platinum.

Perlu diketahui, pengembangan Blok East Natuna lumayan besar. Kalau nggak pakai (kilang) LNG, biayanya US$ 25 miliar. Kalau pakai LNG bisa US$ 35 miliar. Ini perkiraan dari Mackenzie. Kalau harga minyak seperti sekarang bisa lebih murah. Jadi sekitar US$ 30-40 miliar biayanya sampai onstream, kira-kira 5-10 tahun.

Jadi, Kalau ingin dikembangkan Blok East Natuna dengan situasi seperti sekarang harus duduk bersama dulu. Misalnya, IRR inginnya 12%, skenario yang dulu waktu harga minyak masih US$ 80/barel, sekarang bagaimana kalau minyak US$ 50/barel. Apakah mungkin split pemerintah dikurangi, atau yang lain. Kalau split pemerintah dikurangi, mereka bayar ke pemerintah jadi lebih sedikit, biaya operasinya jadi lebih murah.

Penerimaan negara memang akan berkurang di hulu kalau split kecil. Tapi nggak apa-apa, yang penting gasnya harus buat domestik sehingga memicu pengembangan ekonomi wilayah, menumbuhkan industri di dalam negeri. Misalnya untuk petrokimia, untuk listrik, sebagian untuk LNG.

Dulu waktu harga minyak US$ 100/barel, gas dari Natuna harus US$ 8,2/mmbtu baru ekonomis. Sekarang tentu dengan harga minyak US$ 50/barel mungkin tidak masuk, biaya produksi gasnya US$ 8/mmbtu sementara harga gas lagi jatuh. Tapi itu kan kalau skema fiskalnya biasa-biasa saja. Kalau disesuaikan bisa saja ekonomis, diberi insentif-insentif supaya ini jalan.

Pengembangan Blok East Natuna harus segera dimulai meski harga minyak sedang rendah. Memang biaya untuk mengembangkannya mahal dan gas baru mengalir 5-10 tahun, tapi harus dimulai. Selama pembangunan banyak orang kerja di sana, ada aktivitas, ada kegiatan. Jadi China mikir juga kalau mau mengklaim Natuna, karena disana ada kegiatan. Saat tahap produksi juga ada kegiatan, ada helikopter bolak-balik, ada segala macam. Kalau sekarang kosong, seharusnya pemerintah berpikir bukan hanya segi komersialitas, tapi juga kedaulatan negara, jangan hanya berpkir komersialnya saja.

Pengembangan Blok East Natuna terkendala utamanya adalah keinginan pemerintah. Kalau ada kemauan harusnya diberikan semua fasilitas, yang penting ini terbangun.

Kandungan CO2 di Blok East Natuna sampai 72%, telah dipikirkan oleh Exxon Mobil. Itu akan diinjeksikan lagi, sudah dipetakan, sudah disiapkan wilayah untuk injeksi CO2-nya, itu lah sebabnya biayanya mahal. Pemerintah sudah memberikan lokasi untuk injeksi, ada reservoir di atasnya.

Jika pengembangan Blok East Natuna berhasil penghasilan gasnya bisa 1.000 MMSCFD selama 30 tahun. Ada lagi kondensatnya. Cadangan minyaknya sekitar 310 juta barel. Produksi minyak bisa 19.000 barel per hari (bph) selama 6 tahun. Potensi pasarnya ke Batam, Kalimantan Timur, dan Singapura.

Gas dari Natuna ada yang direncanakan dijual ke Singapura dan tidak semuanya dijual ke dalam negeri. Undang-Undang aturannya ditawarkan dulu ke domestik. Kalau domestik tidak bisa menyerap, baru untuk ekspor.

Jiga gas di Natuna bisa dikembangkan perlu ada pembangunan untuk meningkatkan nilai tambah. Salah satunya pembangunan LNG dan industri petrokimia. Tapi kalau bangun LNG, jangan pakai skema hulu, jangan masuk ke cost recovery. Jual putus saja seperti di Donggi Senoro. Penerimaan negara tidak tergerus lagi untuk membangun LNG Plant.

Saat ini Indonesia mai bergantung pada impor petrokimia dari Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Malaysia. Sementara merka gasnya dari Indonesia.

Blok-blok lain di Natuna ada yang mandek. Ada 16 blok di perairan Natuna. Ada 3 blok yang akan determinasi karena KKKS-nya tidak melakukan apa-apa. Sampai perpanjangan masa eksplorasi tidak ada kegiatan. Jadi, blok eksplorasi KKKS-ya semua perlu dievaluasi.

Perlu diingat, Natuna itu dibagi 2, Natuna Timur dan Natuna Barat. Kalau yang di timur, reservoir-nya batu gamping atau batu kapur. Kalau yang di barat itu pasir. Sekarang semuanya yang produksi dari barat, dari Premiere, ConocoPhilips, Star Energy. Produksi gasnya 491 MMSCFD, minyaknya 25.000 barel per hari.

“Hampir semua produksi gasnya sekarang dialirkan ke Singapura dan Malaysia,” tutup Haposan. (mk/dfc/wdl/dre)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.