Komisi IX DPR RI Bongkar ‘Bobrok’ Imigrasi Batam

Kantor Imigrasi kelas-1 Khusus Batam.
Kantor Imigrasi Kelas-I Batam.

Terkait TKA Tanjung Kasam Telangga Punggur, Batam.

BATAM (MK)- Usai melakukan pertemuan dengan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, di Graha Kepri, Batam Centre (22/7/2016), rombongan komisi IX DPR RI melakukan penijauan disejumlah perusahaan di pulau Batam. Kunjungan Kerja (Kungker) komisi IX ke pulau Batam ini untuk mengetahui seberapa besar Tenaga Kerja Asing (TKA) dan Peluang Kerja Anak Bangsa di pulau Batam.

Salah satu yang menjadi perhatian khusus adalah PLTU Tanjung Kasam Telaga Punggur Batam. Tancap gas, dan setiba di PLTU Tanjung Kasam rombongan komisi IX DPR RI seperti kebingungan. Pasalnya, tidak ada satupun pekerja asing yang bisa berbahasa Indonesia.

Untuk masuk ke kawasan PLTU ini di jaga cukup ketat, dan tidak sembarangan orang bisa masuk. Kawasan ini memang sudah dikuasai oleh Tiongkok. Ini dibuktikan dengan adanya ratusan orang yang bekerja di tempat ini dan hampir seratus persen TKA dari Tiongkok. bahkan semua tulisan yang berada di tempat ini berbahasa Tiongkok.

Inilah yang membuat heran Komisi IX DPRD RI saat melakukan sidak di PLTU Tanjung Kasam, Batam. Celakanya, tidak ada satupun TKA Tiongkok ini yang dapat menunjukan dokumen izin kerja dan tinggal di Indonesia. Merekapun tidak ada yang mengerti ketika ditanyai rombongan komisi IX tersebut.

Adanya temuan komisi IX DPR RI ini, menjadi pertanyaan terkait kinerja Imigrasi kota Batam. Harusnya, lembaga negara yang menangani orang asing itu harus selektif dan ketat untuk mengawasi warga negara asing yang masuk maupun bekerja di perusahaan yang ada di Batam.

Komisi IX juga mewarning agar Imigrasi Batam segera melakukan pendataan TKA khususnya pekerja Tiongkok yang ada di Batam. Karena, kota ini merupakan salah satu kota transit di Indonesia untuk berhubungan dengan negara luar, jadi sangat cukup rentan masuknya tenaga kerja ilegal asal Tiongkok.

Hasil sidak dan temuan TKA asal Tiongkok yang menguasai PLTU Tanjung Kasam Batam ini akan dibawa ke dalam rapat DPR RI, termasuk lemahnya kinerja imigrasi Batam dalam pengawasan pekerja asal Tiongkok yang kini sedang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat maupun rakyat Indonesia.

Sementara itu, dari informasi yang di rangkuman Panji Kepri di lapangan, bukan mustahil pekerja asal Tiongkok yang telah menyerbu kota Batam. Memang cukup sulit untuk membedakan antara WNA Tiongkok turunaan dan pendatang asli dari Tongkok. Di kota Batam, jumlah penduduk WNA turunan dan pribumi-pun hanya berbeda tipis, sehingga cukup sulit untuk membedakan antara WNA turunan dan pendatang asal Tiongkok.

Hampir disemua sektor di kota Batam telah dikerjakan oleh WANA turunan, mulai dari proyek pemerintah sampai calo paspor di Imigrasi Batam-pun telah dikuasai WNA turunan Tiongkok. (mk/dre)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.