Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau
Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau

Kursi Wakil Gubernur Kepulauan Riau kosong sejak Nurdin Basirun dilantik menjadi gubernur menggantikan M Sani yang meninggal dunia setelah beberapa bulan memimpin pemerintah wilayah itu.

Sejumlah birokrat dan politikus mengincar kursi empuk itu. Mereka mendaftar sebagai calon wakil gubernur yang dibuka partai pengusung.

Berbagai pihak menilai lima partai pengusung M Sani-Nurdin Basirun pada Pilkada Kepri 2015 tidak kompak. Lima parpol pengusung Sani-Nurdin (Sanur) adalah Partai Demokrat, Partai Gerindra, Partai Nasdem, PPP dan PKB.

Sulit bagi pengurus partai pengusung tersebut untuk menyatukan persepsi dan keinginan, karena kepentingan politik yang berbeda.

“Sulit menyatukan keinginan. Kami sudah dua kali rapat, tetapi belum membuahkan keputusan,” kata Sekretaris DPD Partai Demokrat Kepri Husnizar Hood.

Husnizar sendiri memiliki keinginan untuk menjadi Wagub Kepri. Selain dia, Ketua PPP Kepri Syarafudin Aluan.

Belakangan ini muncul pula nama Ketua Partai Demokrat Bintan Wibowo yang juga Wakil Ketua DPRD Bintan.

Saingan Husnizar ternyata bukan dari internal partainya saja, sebab Huzrin Hood, abang kandungnya juga mengincar kursi itu.

Bagaimana dengan keluarga M Sani? Sejak beberapa bulan terakhir muncul nama Rini Fitrianti, putri kandung Sani, bersaing dengan Isdianto, adik kandung mantan gubernur Kepri.

Keduanya dikabarkan intensif melobi Partai Demokrat, salah satu partai pengusung yang paling banyak mendapat mendapatkan kursi di DPRD Kepri dibanding partai pengusung lainnya.

“Isdianto yang masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kepri mengubah kebiasaannya, yang dahulu tertutup sekarang semakin terbuka,” kata Ketua Komisi I DPRD Kepri Sukhri Fahrial.

Keinginan Isdianto menjabat sebagai wagub itu bukan isapan jemput belaka, melainkan semakin terbukti.

Dalam beberapa bulan terakhir, Isdianto mulai memublikasikan dirinya kepada publik melalui iklan pajak di baliho yang dipasang di sejumlah kawasan strategis di Tanjungpinang, Batam dan daerah lainnya.

Pada baliho itu tampak wajah Nurdin yang bersanding dengan Isdianto.

“Itu salah satu gerakan politik,” katanya.

Namun sampai sekarang Isdianto belum pernah menyampaikan keinginannya itu kepada pengurus Partai Hanura.

“Secara formal, dia (Isdianto) tidak pernah membicarakan hal itu kepada saya. Hanya Syarafudin Aluan yang secara jantan minta saya untuk memfasilitasi bertemu dengan pengurus pusat,” katanya.

Sukhri mengatakan siapa pun yang berkompeten berpeluang menjabat sebagai wakil gubernur. Namun pertanyaannya, apakah figur tersebut mampu mendorong partai pengusung Sani-Nurdin dan partai lainnya mendukungnya.

“Isdianto merupakan pejabat di pemerintahan, pasti memiliki pengalaman di birokrasi pemerintahan, tetapi itu tidak cukup,” katanya.

Dia mengatakan wakil gubernur harus mampu bersinergi dengan gubernur, dan mampu berkomunikasi secara baik dengan DPRD Kepri.

“Atasannya itu gubernur, dan mitra kerjanya itu DPRD Kepri. Jadi harus bisa mengelola pemerintahan dengan baik,” katanya.

Sukhri mengatakan nasib Isdianto maupun figur lainnya yang mengincar kursi Wagub Kepri tergantung keputusan 45 anggota DPRD Kepri.

Saat ini jumlah anggota DPRD Kepri yang aktif hanya 43 orang, karena Sofyan Syamsir anggota DPRD Kepri dari Fraksi Golkar meninggal dunia, dan seorang anggota DPRD Kepri ditahan penegak hukum.

“Jumlah anggota DPRD Kepri dari partai pengusung Sani-Nurdin hanya 17 orang, sedangkan 28 orang lainnya dari partai pengusung Soerya Respationo-Ansar Ahmad,” katanya.

Fokus

Partai pengusung Sanur pada Pilkada Kepulauan Riau 2015 harus fokus memilih dua figur sebagai calon wakil gubernur, kata Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji Syafsir Akhlus.

“Harus disegerakan penetapan cawagub untuk segera dipilih DPRD Kepri,” ujarnya.

Akhlus mengemukakan peranan Nurdin cukup besar dalam pemilihan cawagub, meski dalam ketentuan hanya partai pengusung yang memiliki kewenangan untuk mengusulkan dua nama cawagub, dan kemudian dipilih oleh anggota DPRD Kepri.

Partai pengusung maupun DPRD Kepri sudah seharusnya mengutamakan kepentingan pemerintahan dibanding kepentingan politik.

Karena itu, kata dia partai pengusung dan anggota DPRD Kepri harus memilih figur yang memenuhi persyaratan, salah satunya dapat bekerja sama dengan gubernur.

“Wakil gubernur harus memiliki wawasan yang baik, pengalaman di pemerintahan, jujur, berintegritas dan dapat bekerja profesional terutama mewakili tugas gubernur,” ujarnya.

Dia mengatakan peranan Wagub Kepri cukup besar di pemerintahan, sebab tugas-tugas gubernur dalam lima tahun sangat berat. Wilayah Kepri yang luas, dan terdapat banyak permasalahan yang dihadapi tidak dapat diselesaikan sendiri oleh gubernur.

Kehadiran Wagub Kepri dapat mempercepat proses pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Harus ada pembagian tugas yang jelas untuk mempercepat pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.

Selektif

Partai pengurus Sanur pada Pilkada Kepri sebaiknya lebih selektif dalam memilih calon wakil gubernur, jangan sampai figur yang terpilih bermasalah, kata pengamat politik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Bismar Arianto.

“Rekam jejak figur yang diusulkan untuk dipilih DPRD Kepri sebagai Wagub Kepri harus dipelajari, jangan sampai pendamping gubernur itu bermasalah,” ujarnya.

Bismar mengingatkan partai pengusung tidak memilih figur yang memiliki resistensi yang tinggi. Wagub terpilih harus mampu meningkatkan kualitas pemerintahan, bukan malah sebaliknya.

“Figur yang dipilih sebagai wagub harus mampu memperkuat pemerintahan, bukan sebaliknya. Karena itu, figur tersebut harus memiliki kemampuan di pemerintahan dan politik,” ucapnya.

Menurut dia, figur yang dipilih tidak cukup memiliki kemampuan di pemerintahan, melainkan harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan DPRD Kepri dan partai politik.

Figur itu harus memiliki jejak rekam sebagai orang yang jujur, cerdas dan dapat dipercaya atau amanah.

“Wagub Kepri itu harus cerdas, sebab mewakili atau membantu tugas-tugas gubernur. Wagub harus mampu bekerja sama dengan gubernur,” katanya.

Bismar menambahkan partai pengusung juga sebaiknya memilih figur yang merakyat, karena pasangan calon pertama HM Sani-Nurdin Basirun memenangkan Pilkada Kepri 2015 berdasarkan keinginan rakyat.

“Figur tersebut harus dapat diterima rakyat, disukai rakyat. Yang bisa bekerja sama dengan gubernur.yang merakyat,disukai rakyat,” katanya.

Bismar mengatakan Wagub Kepri dibutuhkan untuk memperkuat pemerintahan. Karena itu, partai pengusung dan DPRD Kepri harus mempercepat proses pemilihan cawagub.

Untuk mempercepat pemilihan cawagub, dia mengingatkan partai pengusung untuk mengutamakan kepentingan rakyat Kepri, bukan kepentingan partai dalam memilih dua calon wagub.
Jika proses pemilihan terlalu lama, lanjutnya dikhawatirkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat menjadi terhambat.

“Diskusi, satu-satunya cara. Harus ada inisiatif untuk membuat keputusan yang profesional,” ujarnya. (Antara)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published.